Kurang dari Satu Bulan, Karhutla Kotim Bertambah 176 Hektare

Agus Pramono • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 18:00 WIB
Karhutla di Kotim.(BPBD)
Karhutla di Kotim.(BPBD)

 

SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menunjukkan tren yang semakin mengkhawatirkan. Dalam waktu kurang dari satu bulan, luas lahan yang terbakar bertambah sekitar 176 hektare.

Lonjakan itu disertai jumlah titik panas dan kejadian kebakaran di berbagai wilayah yang semakin banyak.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat, hingga 1 Juli 2026 luas lahan yang terbakar mencapai 109 hektare. Angka tersebut meningkat menjadi menjadi 285 hektare per 27 Juli 2026.

Baca Juga: Kapolda Kalteng Instruksikan Kapolres dan Kapolsek Jajaran Selidiki dan UngkapnPenyebab Setiap Karhutla

Kenaikan juga terjadi pada jumlah kejadian karhutla. Dari 53 kasus yang tercatat hingga awal Juli, jumlahnya bertambah menjadi 93 kejadian pada 23 Juli dan kembali meningkat menjadi 123 kejadian empat hari kemudian.

Berdasarkan sebaran wilayah, Kecamatan Pulau Hanaut menjadi daerah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni 82,65 hektare. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Mentawa Baru Ketapang seluas 62,14 hektare, Baamang 58,26 hektare, Parenggean 41,5 hektare, serta Teluk Sampit 13,3 hektare.

Dalam keterangannya, BPBD menjelaskan data luas lahan yang terbakar merupakan hasil pengukuran cepat saat proses penanganan di lapangan sehingga masih berpotensi mengalami perubahan setelah proses verifikasi selesai.

“Luas lahan terbakar adalah area yang diukur saat kejadian yang dapat ditangani oleh petugas. Informasi tersebut mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data,” demikian keterangan BPBD Kotim dalam rilisnya, Selasa (28/7/2026).

Tidak hanya itu, jumlah hotspot juga mengalami kenaikan tajam. Dari 225 titik panas yang tercatat hingga awal Juli, meningkat menjadi 559 titik pada 23 Juli dan kembali bertambah menjadi 645 titik pada 27 Juli. Artinya, dalam kurun kurang dari satu bulan terdapat penambahan sekitar 420 hotspot.

Baca Juga: Antisipasi El Nino Godzilla, Guru Besar IPB Desak Langkah Cepat Cegah Karhutla dengan Kampanye Masif

Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menyebut peningkatan karhutla tidak terlepas dari kondisi musim kemarau yang membuat lahan, khususnya gambut, semakin kering. Selain itu, petugas juga menghadapi tantangan berupa lokasi kebakaran yang sulit dijangkau serta terbatasnya sumber air untuk pemadaman.

BPBD kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran. Kondisi gambut yang mengering membuat api lebih cepat menjalar dan jauh lebih sulit dipadamkan apabila sudah meluas.

“Memasuki musim kemarau, frekuensi karhutla memang meningkat. Ada titik api yang mudah ditangani, tetapi tidak sedikit yang berada di lokasi dengan akses sulit dan minim sumber air. Karena itu kami membutuhkan dukungan semua pihak agar kebakaran tidak semakin meluas,” katanya. (*)

Editor : Agus Pramono
luas karhutla karhutla kotim kebakaran lahan