SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus meluas sepanjang musim kemarau tahun ini.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat sedikitnya 285 hektare lahan telah terbakar sejak Januari sampai akhir Juli 2026, dengan lonjakan kejadian paling signifikan terjadi selama Juli.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan berdasarkan data penanganan di lapangan, luas lahan yang terbakar mencapai 285 hektare. Sementara berdasarkan citra satelit Kementerian Kehutanan, luasan karhutla diperkirakan telah melampaui 300 hektare.
Baca Juga: Kabupaten Kotim Naikkan Status Karhutla dari Siaga Jadi Tanggap Darurat Selama 28 Hari
“Kalau luasan yang dapat kami tangani sekitar 285 hektare. Tetapi berdasarkan foto citra satelit Kementerian Kehutanan, sebenarnya sudah lebih dari 300 hektare. Perbedaan itu karena metode pengambilan datanya berbeda,” katanya, Kamis (30/7/2026).
Ia menjelaskan, peningkatan kebakaran hampir seluruhnya terjadi pada Juli. Pada bulan-bulan sebelumnya, seperti Februari hingga Mei, kejadian karhutla masih relatif kecil.
Namun memasuki puncak musim kemarau, luas lahan yang terbakar meningkat tajam, bahkan di Pulau Hanaut tercatat mencapai sekitar 43 hektare dalam satu lokasi.
“Februari, Maret, April, Mei itu kecil. Meningkatnya justru di bulan Juli. Bahkan ada satu lokasi di Pulau Hanaut yang luas terbakarnya mencapai 43 hektare,” ujarnya.
Multazam mengungkapkan, berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, sebagian besar kebakaran diduga berawal dari kelalaian manusia, seperti membuang puntung rokok sembarangan di pinggir jalan maupun aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar.
“Kami memang jarang menemukan pelakunya. Tetapi kalau melihat pola penyebaran api, rata-rata berawal dari kelalaian. Misalnya puntung rokok di pinggir jalan atau pembakaran lahan yang kemudian ditinggalkan,” jelasnya.
Menurutnya, hembusan angin dari arah tenggara turut mempercepat penyebaran api sehingga kebakaran yang awalnya kecil dengan cepat merambat ke kawasan lain.
“Ada juga yang disengaja, tetapi rata-rata kebakaran hutan dan lahan berawal dari aktivitas membakar yang kemudian lalai. Ditambah angin dari tenggara cukup kencang sehingga api cepat melebar,” pungkasnya. (*)
Editor : Agus Pramono