Karhutla Semakin Meluas, Ekosistem Alam Terdampak

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 18:25 WIB
Ular pyton mati terpanggang karhutla.(BPBD)
Ular pyton mati terpanggang karhutla.(BPBD)

 

 

SAMPIT – Temuan seekor ular berukuran besar yang mati terpanggang saat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi cerminan dampak yang ditimbulkan bencana tersebut.

Tak hanya berdampak pada kesehatan manusia, ekosistem satwa liar juga bisa terancam. Ironisnya, sebagian besar kejadian karhutla di Kotim disebabkan oleh ulah manusia.

Komandan Resort BKSDA Sampit, Muriansyah, mengungkapkan ular memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Reptil tersebut merupakan predator alami tikus dan hewan pengerat yang berpotensi merusak tanaman maupun hasil panen.

Selain itu, ular juga menjadi mangsa bagi burung elang, mamalia besar, dan reptil lainnya, sekaligus menjadi indikator sehat atau tidaknya suatu kawasan hutan.

Baca Juga: Karhutla Mengamuk di Kotim, Seekor Ular Piton Mati Terpanggang

“Contoh berkurangnya ular, banyak yang mati karena terbakar, selain karena perburuan. Hal itu akan berdampak pada lonjakan populasi tikus,” katanya saat dikonfirmasi Kaltengpos.jawapos.com, Jumat (31/7/2026).

“Populasi tikus menjadi tidak terkendali, menyerang tanaman dan sumber pakan lainnya. Pada akhirnya, kerugian itu akan kembali kepada kita juga sebagai manusia,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan ular yang ditemukan tersebut merupakan sanca kembang. Menurutnya, satwa itu diduga tidak sempat menyelamatkan diri ketika kobaran api melanda habitatnya.

“Biasanya ular-ular bersembunyi di lubang-lubang tanah. Saat malam hari baru keluar mencari makan. Ketika terjadi kebakaran seperti itu, ia keluar dari sarangnya untuk menghindari api. Namun, ia kalah cepat sehingga akhirnya mati terbakar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sanca merupakan satwa yang hidup secara soliter atau menyendiri. Ular hanya mencari pasangan ketika memasuki musim kawin, kemudian kembali hidup sendiri setelah proses berkembang biak selesai.

“Ular hidup soliter atau menyendiri. Saat musim kawin baru mencari dan bertemu pasangan. Setelah kawin, ular akan menyendiri lagi dan masuk ke sarangnya masing-masing,” ujarnya.

Menurut Muriansyah, di kawasan kebun, ladang, maupun semak belukar, ular umumnya membuat sarang di lubang-lubang tanah. Sementara itu, di sekitar permukiman, reptil tersebut kerap berlindung di tumpukan kayu, barang bekas, kardus, atau tempat-tempat yang lembap.

Ia menyebut, kematian ular akibat karhutla bukan kali pertama terjadi di Kotim. Pada musim kebakaran sebelumnya, sejumlah satwa melata juga ditemukan mati di area yang dilalap api.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, satwa liar jenis ular seperti sanca batik, sanca gendang atau sanca depung, kobra, dan king kobra sering ditemukan mati di areal bekas kebakaran,” tukasnya. (*)

Editor : Agus Pramono
dampak karhutla karhutla bksda ekosistem alam