SAMPIT – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengganggu pelayanan air bersih ke wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Padahal, air sangat dibutuhkan saat musim kemarau seperti sekarang.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam rapat koordinasi penetapan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), beberapa waktu lalu. Sebab operasional distribusi air kini sangat bergantung pada generator.
Direktur Perumdam Tirta Mentaya Sampit, Ismanadi, mengungkapkan instalasi pengolahan air (IPA) di Pulau Lepeh membutuhkan pasokan listrik untuk mengambil air baku dari Sungai Sampit sekaligus mendorong distribusi menuju Samuda. Saat listrik padam, proses penyaluran air ikut terhenti.
Baca Juga: Enam Desa Pesisir Kotim Mulai Krisis Air Bersih, Kebutuhan Capai 240 Ribu Liter per Pekan
“Kalau listrik padam sekitar satu jam saja, udara langsung masuk ke jaringan pipa. Setelah listrik kembali menyala, kami membutuhkan waktu dua sampai tiga hari agar distribusi air bisa normal lagi di wilayah selatan,” katanya.
Ia menjelaskan, tantangan tidak hanya berasal dari seringnya pemadaman listrik, tetapi juga keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) untuk mengoperasikan genset.
Saat ini Perumdam masih harus mencari pasokan BBM sendiri, sementara kebutuhan terus meningkat akibat frekuensi pemadaman yang hampir terjadi setiap hari.
“Hampir setiap hari listrik padam di Bagendang dan Pulau Lepeh. Kemarin kami hanya berhasil memperoleh dua drum BBM, itu pun diperkirakan hanya cukup untuk operasional sekitar dua hari,” ujarnya.
Karena itu, Perumdam berharap pemerintah daerah melalui BPBD dapat membantu menjembatani koordinasi dengan Pertamina maupun pihak terkait agar pasokan BBM untuk operasional penyediaan air bersih lebih terjamin selama masa kemarau.
Operasional Membengkak Saat Pemadaman Bergilir
Di tengah gangguan kelistrikan yang belum sepenuhnya teratasi, Perumdam Tirta Mentaya juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menjaga pelayanan kepada pelanggan. Hal itu disampaikan Ismanadi saat mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi II DPRD Kotim terkait dampak pemadaman listrik bergilir beberapa waktu lalu.
Ia mengatakan, selama hampir satu bulan terakhir pihaknya rutin mendistribusikan air menggunakan mobil tangki kepada pelanggan yang terdampak. Langkah itu dilakukan agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi meski jaringan distribusi mengalami gangguan.
“Kurang lebih sudah satu bulan kami menyalurkan air menggunakan mobil tangki kepada pelanggan. Bahkan sebelum ada penetapan tanggap siaga, kami sudah lebih dulu mengirim air bersih ke masyarakat,” ungkapnya.
Ismanadi menambahkan, instalasi Perumdam belum termasuk objek prioritas yang tetap memperoleh pasokan listrik saat pemadaman bergilir.
Akibatnya, perusahaan harus mengandalkan genset dan armada distribusi dengan biaya operasional yang seluruhnya masih ditanggung dari pendapatan perusahaan.
“Tidak ada anggaran khusus untuk itu. Seluruh biaya penggunaan genset maupun mobil tangki masih kami tanggung dari pendapatan operasional perusahaan agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan,” pungkasnya. (*)
Editor : Agus Pramono