SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin meningkat seiring kondisi cuaca terik dan kering. Berbagai kendala pun dihadapi oleh petugas di lapangan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, pada Senin (3/8/2026), sedikitnya terdapat 11 titik penanganan karhutla.
Sementara itu hasil pemantauan udara pada Selasa (4/8/2026) menunjukkan jumlah hotspot di Kotim telah mencapai 61 titik.
Baca Juga: Karhutla Kalteng Masih Menyisakan Bara di Gambut, 500 Personel dan Water Bombing Dikerahkan
Sejumlah lokasi yang masih menjadi fokus penanganan antara lain Desa Camba, Jalan Jenderal Sudirman belakang SMAN 4, Jalan Jenderal Sudirman Km 23, Desa Lempuyang yang telah memasuki hari ketiga penanganan, hingga kebun praktik SMKN 4 di Desa Eka Bahurui yang belum dapat dijangkau petugas.
Sementara beberapa lokasi lain telah padam namun masih mengeluarkan asap.
Terkait kondisi itu, Kapolda Kalimantan Tengah (Kalteng) Irjen Pol Iwan Kurniawan turun langsung meninjau kondisi di Kota Sampit. Dari hasil patroli udara menunjukkan tidak seluruh hotspot merupakan titik kebakaran aktif.
Dari 61 hotspot yang terdeteksi, terdapat lima lokasi yang benar-benar mengalami kebakaran lahan dan menjadi prioritas pemadaman.
“Dari data yang kami dapat, kurang lebih titik hotspot hari ini memang ada 61. Tapi yang ada karhutlanya yang terbakar ada lima titik. Kami sudah berkoordinasi dengan Pak Bupati, Kapolres, BPBD, dan seluruh Satgas untuk menentukan teknik serta metode pemadaman,” ujarnya.
Menurut Kapolda, keterbatasan personel dan sarana membuat seluruh tim harus menentukan skala prioritas dalam melakukan pemadaman agar upaya yang dilakukan lebih efektif.
“Keterbatasan sarana prasarana dibandingkan titik kebakaran yang cukup banyak membuat kita harus selektif menentukan prioritas. Seluruh potensi yang ada juga akan kita kerahkan untuk membantu,” katanya.
Baca Juga: Mengkhawatirkan! Kasus ISPA Dampak Karhutla di Kota Palangka Raya Tembus 12 Ribu
Sementara itu, Bupati Kotim Halikinnor mengakui daerahnya kini menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi di Kalimantan Tengah.
Kondisi tersebut diperparah dengan semakin sulitnya memperoleh sumber air akibat kemarau panjang.
“Saat ini titik hotspot kita tertinggi di Kalimantan Tengah. Tadi sudah mencapai 61 titik, tetapi yang benar-benar terbakar ada lima lokasi yang sedang dipadamkan,” katanya.
Ia menjelaskan, kondisi lahan gambut menjadi tantangan tersendiri karena api sulit dipadamkan ketika sudah membesar. Sementara embung dan parit yang biasanya menjadi sumber air mulai mengering.
“Kalau api masih kecil mari kita padamkan bersama sebelum membesar. Karena kalau sudah terbakar di lahan gambut, sangat sulit dipadamkan. Apalagi sekarang embung dan parit sudah banyak yang kering,” ujarnya.
Baca Juga: Dinkes Kalteng Siapkan Dua Rumah Singgah Oksigen, Ajak Warga Siap Hadapi Potensi KLB Asap
Untuk mempercepat penanganan, Pemkab Kotim telah mengajukan bantuan helikopter water bombing kepada BPBD Provinsi Kalimantan Tengah.
“Mudah-mudahan dalam waktu secepatnya bantuan helikopter datang, terutama untuk memadamkan kebakaran yang berada jauh di dalam hutan dan sulit dijangkau lewat darat,” pungkasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana