Sering Terjadi Karhutla Muncul Kreativitas, Warga Graha Pramuka Sampit Rakit Alat Pemadam

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 16:24 WIB
Alat pemadam api rakitan buatan warga.(Facebook)
Alat pemadam api rakitan buatan warga.(Facebook)

SAMPIT – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saban tahun menghantui kawasan Perumahan Graha Pramuka, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendorong warga mengambil langkah mandiri. 

Dengan biaya pribadi, mereka merakit perangkat pemadam kebakaran sederhana untuk mempercepat penanganan saat api mulai muncul.

Peralatan itu terdiri dari mesin pompa air, drum penampung, serta jaringan selang yang dirangkai secara mandiri. 

Baca Juga: BTT Cair Rp3 Miliar, Wagub Kalteng Pastikan Penanganan Karhutla Terus Berjalan

Fungsinya bukan menggantikan petugas pemadam, melainkan sebagai sarana penanganan awal agar kobaran api tidak terlanjur membesar sebelum tim Satgas Karhutla tiba di lokasi.

Salah seorang warga, Anwar, mengatakan inisiatif tersebut lahir dari pengalaman menghadapi kebakaran yang hampir selalu terjadi setiap musim kemarau.

Menurutnya, kawasan tempat tinggal mereka berbatasan dengan lahan yang mudah terbakar sehingga membutuhkan kesiapsiagaan ekstra.

Baca Juga: Karhutla Tumbang Nusa Belum Padam, 3 Helikopter dan 4 Hexa Dikerahkan untuk Sekat Api

“Kami membuat peralatan ini untuk penanganan awal apabila terjadi kebakaran, sambil menunggu petugas datang ke lokasi,” katanya, Jumat (7/8/2026).

Ia menuturkan seluruh komponen dirakit menggunakan perlengkapan yang mudah diperoleh di pasaran. Meski sederhana, alat itu dinilai cukup membantu membasahi area yang terbakar agar api tidak cepat merambat ke permukiman.

Alat pemadam merakit sendiri
Alat pemadam merakit sendiri

“Peralatannya hanya menggunakan mesin alkon, drum penampung, dan selang. Semua kami rakit sendiri,” ujarnya.

Menurut Anwar, keberadaan alat tersebut sudah pernah dimanfaatkan ketika kebakaran terjadi di sekitar kompleks. Saat itu, warga berhasil menahan laju api hingga akhirnya proses pemadaman dilanjutkan oleh petugas.

Baca Juga: Kapolda dan Bupati Kotim Tinjau Karhutla, Beberkan Kendala Petugas Pemadam di Lapangan

Untuk satu unit perangkat, kata dia, dana yang harus disiapkan mencapai sekitar Rp5 juta dan seluruhnya berasal dari biaya pribadi.

“Kalau dihitung keseluruhannya, modalnya sekitar lima juta rupiah dan itu kami keluarkan secara mandiri,” ungkapnya.

Selain menyiapkan peralatan, warga juga meningkatkan pengawasan lingkungan selama musim kemarau. Mereka rutin memantau lahan di sekitar kompleks agar titik api dapat diketahui lebih cepat dan segera ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

Anwar berharap langkah swadaya tersebut dapat menginspirasi masyarakat di kawasan lain yang berbatasan dengan lahan kosong atau semak belukar. Menurutnya, keterlibatan warga dalam penanganan awal menjadi salah satu cara efektif untuk mengurangi risiko meluasnya karhutla.

Editor : Agus Pramono
alat pemadam karhutla kotim karhutla