SAMPIT – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai mendekati lingkungan warga. Dalam sembilan hari pertama Agustus 2026, petugas mencatat puluhan kejadian kebakaran yang lokasinya berada di sekitar permukiman hingga fasilitas pendidikan.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim Akhmad Taufik mengatakan, terdapat 27 kejadian karhutla yang berada di sekitar kawasan permukiman sepanjang 1-9 Agustus. Seluruhnya berhasil dipadamkan sebelum api merembet ke rumah warga.
Baca Juga: 18 Lokasi Karhutla di Kotim Kini Dipasangi Police Line, Penyelidikan Dimulai
“Mulai 1 sampai 9 Agustus, ada 27 kejadian kebakaran yang lokasinya mendekati permukiman. Semuanya sudah berhasil kami tangani dan dipadamkan,” katanya, Selasa (11/8/2026).
Sebaran kebakaran tersebut tidak hanya terjadi di kawasan pinggiran. Sejumlah kejadian justru muncul di wilayah perkotaan Sampit, khususnya Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang. Kondisi ini membuat kewaspadaan terhadap potensi api menjalar ke lingkungan padat penduduk semakin diperlukan.
Menurut Taufik, karakteristik lokasi menjadi salah satu faktor yang membuat kebakaran lahan berpotensi mengancam permukiman. Lahan kosong yang dipenuhi semak dan berada tepat di sekitar rumah warga menjadi area yang mudah terbakar ketika kondisi lingkungan kering.
“Lahan yang berbatasan langsung dengan permukiman, terutama yang sudah lama tidak digunakan dan ditumbuhi semak, memang menjadi salah satu lokasi yang rawan,” ujarnya.
Ancaman serupa juga terjadi terhadap fasilitas pendidikan. Salah satu kejadian dilaporkan berada di sekitar sebuah SMK di Kecamatan Kota Besi. Kobaran api sempat bergerak mendekati kawasan sekolah sebelum berhasil dikendalikan petugas.
Baca Juga: Petugas yang Memadamkan Karhutla di Kotim Mulai Alami Sesak Napas
“Di Kota Besi, ada kebakaran lahan yang sempat mendekati SMK. Namun api sudah berhasil ditangani sehingga tidak sampai mengganggu bangunan sekolah,” ungkapnya.
Hingga saat ini, Disdamkarmat belum menemukan rumah warga yang terbakar akibat rambatan karhutla. Kendati demikian, beberapa bangunan berupa pondok yang tidak dihuni dilaporkan sempat terdampak kebakaran.
Kecepatan penanganan menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah api memasuki kawasan permukiman. Petugas yang menerima laporan langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman dan mencegah kobaran meluas.
“Kalau laporan sudah masuk, kami langsung bergerak. Insya Allah kurang dari 15 menit petugas sudah bisa sampai di lokasi,” jelas Taufik.
Baca Juga: Kabut Asap Mulai Ganggu Jarak Pandang, Satlantas Kotim Minta Pengendara Kurangi Kecepatan
Di tengah kondisi lahan yang kering, aktivitas manusia menjadi salah satu hal yang turut diwaspadai. Api kecil dari aktivitas sehari-hari dapat dengan mudah menjalar ketika berada di sekitar vegetasi kering dan semak belukar.
“Dugaan sementara bisa saja dari puntung rokok atau aktivitas membakar sampah dalam skala kecil. Kalau kondisi sekitarnya kering, api bisa merambat,” katanya.
Disdamkarmat mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama warga yang tinggal berdekatan dengan lahan kosong. Selama kondisi kemarau dan potensi karhutla masih tinggi, masyarakat juga diminta menghindari pembakaran sampah maupun kegiatan membersihkan lahan dengan cara membakar.
Langkah pencegahan dinilai penting karena kebakaran yang awalnya berada di lahan kosong dapat berubah menjadi ancaman bagi permukiman apabila tidak segera dilaporkan dan ditangani.(*)
Editor : Ayu Oktaviana