SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mendapat tambahan alokasi 9.000 tabung elpiji 3 kilogram untuk mempercepat peralihan bahan bakar rumah tangga di enam kecamatan.
Keenam wilayah yang dimaksud yakni Kota Besi, Telawang, Mentaya Hulu, Bukit Santuai, Telaga Antang dan Antang Kalang. Pasokan baru itu ditargetkan mulai tersedia pada September 2026.
Bupati Kotim Halikinnor mengungkapkan persetujuan penambahan kuota tersebut telah diterbitkan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Dengan persetujuan itu, enam kecamatan yang sebelumnya belum masuk program konversi kini mulai mendapatkan alokasi elpiji 3 kg.
“Surat persetujuan dari Dirjen Migas sudah saya terima. Tambahan yang disetujui sebanyak 9.000 tabung dan ini sekaligus menandai masuknya enam kecamatan tersebut dalam program konversi,” katanya, Kamis (20/8/2026).
Tambahan kuota tersebut merupakan tindak lanjut dari permohonan yang sebelumnya diajukan Pemkab Kotim kepada Ditjen Migas sekitar satu bulan lalu. Setelah mendapat persetujuan pusat, pemerintah daerah kini menunggu pelaksanaan distribusi di lapangan.
Halikinnor menyebut realisasi pasokan tambahan diperkirakan dimulai pada September. Ia berharap penambahan tersebut mampu mengatasi persoalan akses bahan bakar yang selama ini masih dihadapi masyarakat di enam kecamatan.
“Informasinya distribusi mulai berjalan September. Kami berharap tambahan ini bisa mengurangi kesulitan masyarakat mendapatkan elpiji 3 kilogram sehingga kebutuhan bahan bakar rumah tangga dapat terpenuhi,” ujarnya.
Selama belum masuk skema konversi, warga di enam kecamatan tersebut masih menggunakan minyak tanah untuk keperluan rumah tangga. Kondisi itu menjadi salah satu alasan pemerintah daerah mengupayakan konversi secara mandiri.
Dengan adanya tambahan kuota, pemerintah berharap penggunaan minyak tanah dapat dikurangi secara bertahap. Masyarakat nantinya diarahkan beralih menggunakan elpiji 3 kg sebagai bahan bakar rumah tangga.
Bagi Pemkab Kotim, kebijakan ini bukan hanya menyangkut perubahan jenis bahan bakar. Ketersediaan elpiji juga berkaitan dengan daya beli masyarakat dan stabilitas harga kebutuhan sehari-hari.
Halikinnor mengatakan peralihan dari minyak tanah ke elpiji dapat memberikan dampak positif terhadap pengendalian inflasi daerah. Menurut dia, ketersediaan bahan bakar yang lebih terjamin dapat membantu menjaga pengeluaran masyarakat.
“Dengan beralihnya masyarakat dari minyak tanah, kebutuhan energi rumah tangga bisa dipenuhi melalui elpiji. Kondisi itu juga menjadi salah satu langkah untuk membantu pengendalian inflasi,” imbuhnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana