SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menghadapi persoalan serius dalam penyediaan air untuk pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Memasuki kemarau yang diperkirakan berlangsung panjang, sejumlah embung, parit hingga sumur bor dilaporkan mulai mengering. Kondisi tersebut membuat kebutuhan sarana dan prasarana pemadaman menjadi semakin mendesak.
Baca Juga: Desa Sei Pinang Terancam Krisis Air Bersih, Kades Minta Pemerintah Daerah Bergerak
“Mulai Juli kemarin sampai sekarang, embung-embung kita, parit-parit yang ada, bahkan sumur bor juga ada yang kering sudah. Cepat sekali keringnya,” ujar Bupati Kotim Halikinnor, Kamis (20/8/2026).
Ia mengakui peralatan yang dimiliki pemerintah daerah saat ini masih membutuhkan penambahan, meski penanganan karhutla juga mendapat dukungan dari unsur TNI dan Polri.
“Kita akui saat ini peralatan kita itu masih kurang, masih membutuhkan. Tapi sudah cukup memadai sebenarnya, karena kita ada dibantu juga dari Korem, dari Kodim, dari Polres, dan juga dari Batalyon,” katanya.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Pemkab Kotim telah menyurati Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk meminta tambahan peralatan.
Baca Juga: Dilema BPBD Kotim Ketika Karhutla Meluas: Distribusi Air Bersih atau Pemadaman
Halikinnor mengatakan bantuan yang diajukan antara lain berupa tangki air, sumur bor dan selang.
“Kita sudah menyurati BNPB Pusat untuk minta bantuan berupa tangki, berupa sumur bor, dan juga selang-selang untuk membantu kita di sini,” ungkapnya.
Menurut dia, penambahan sarana tersebut penting untuk menghadapi kemungkinan kemarau panjang sekaligus menjaga kemampuan pemerintah dalam merespons titik-titik kebakaran yang terus bermunculan. (*)
Editor : Ayu Oktaviana