SAMPIT — Postingan Seretariat Kabinet (Seskab) tengah menjadi sorotan warga Kotawaringin Timur (Kotim). Pasalnya, unggahan Instagram akun @sekretariat.kabinet pada Jumat (21/8/2026) menampilkan kondisi Kota Sampit di kawasan Terowongan Nur Mentaya yang terlihat bersih dari asap.
Namun, benarkah kondisi udara di Kotim benar-benar aman?
Dari keterangan warga sekitar, kabut asap tebal memang tidak terlihat, terutama menjelang siang. Namun, kondisi kasatmata tersebut tidak serta-merta menunjukkan udara terbebas dari pencemaran.
Baca Juga: Berkat Video yang Direkam Anak SMP, 2 Pelaku Pembakar Lahan di Palangka Raya Ditangkap
Data ISPUNet menunjukkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kabupaten Kotawaringin Timur berada di angka 111. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat pada Jumat (21/8/2026).
Selain itu , data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim justru menunjukkan tingginya aktivitas titik panas di wilayah Kotim.
Hingga 21 Agustus 2026, BPBD Kotim mencatat 6.793 hotspot sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Angka itu melonjak lebih dari 14 kali lipat dibandingkan total hotspot sepanjang 2025 yang hanya mencapai 453 titik.
Lonjakan paling tajam terjadi pada Agustus 2026. Dari total 6.793 hotspot yang tercatat tahun ini, sebanyak 6.276 titik muncul hanya sepanjang Agustus hingga 21 Agustus.
Artinya, lebih dari 92 persen hotspot sepanjang 2026 di Kotim tercatat pada bulan ini.
Baca Juga: Kabut Asap Kalimantan Sampai ke Malaysia, Menteri Jumhur: Gara-Gara Angin, Suka Bolak Balik
Kecamatan dengan jumlah hotspot tertinggi sepanjang 2026 adalah Mentaya Hilir Selatan dengan 1.485 titik. Disusul Teluk Sampit sebanyak 1.156 titik, Baamang 725 titik, Mentawa Baru/Ketapang 698 titik, Kota Besi 678 titik, dan Mentaya Hilir Utara 643 titik.
Di wilayah perkotaan Sampit, Baamang dan Mentawa Baru/Ketapang menjadi dua wilayah dengan aktivitas hotspot yang cukup tinggi.
Baamang mencatat 725 hotspot sepanjang 2026, dengan 706 di antaranya muncul pada Agustus. Sementara Mentawa Baru/Ketapang mencatat 698 hotspot, termasuk 642 titik pada Agustus.
Data tersebut menunjukkan bahwa meski kepulan asap tidak selalu terlihat secara kasatmata di pusat Kota Sampit, ancaman karhutla di wilayah Kotim masih sangat besar.
Bukan hanya hotspot, BPBD Kotim juga mencatat 420 kejadian karhutla yang telah ditangani sepanjang 2026, dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.412 hektare lebih.
Seranau menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni mencapai 703,5 hektare. Angka tersebut menyumbang hampir separuh atau 49,82 persen dari total luas lahan terbakar di Kotim.
Di bawahnya terdapat Mentawa Baru/Ketapang dengan luas 250 hektare dan Baamang 139 hektare.
Menariknya, Seranau hanya mencatat empat kejadian penanganan karhutla, tetapi luas lahan yang terbakar mencapai 703,5 hektare. Kondisi ini menunjukkan bahwa jumlah kejadian tidak selalu berbanding lurus dengan luasan lahan yang terbakar.
Sementara itu, Mentawa Baru/Ketapang mencatat jumlah penanganan tertinggi dengan 180 kejadian, disusul Baamang sebanyak 171 kejadian.
Data BPBD juga memperlihatkan masih adanya wilayah yang mencatat hotspot cukup tinggi meski belum terdapat kejadian karhutla yang ditangani. Antang Kalang, misalnya, mencatat 150 hotspot dan Telaga Antang 74 hotspot. Bukit Santuai mencatat 149 hotspot, sedangkan Tualan Hulu 38 hotspot.
Namun, BPBD mencatat keempat kecamatan tersebut belum memiliki data penanganan kejadian karhutla maupun luas lahan terbakar hingga 21 Agustus 2026.
Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa hotspot bukan otomatis berarti kebakaran.
Titik panas merupakan indikator yang perlu diverifikasi di lapangan. Sebaliknya, tidak terlihatnya asap dari pusat kota juga bukan berarti ancaman karhutla telah hilang.
BPBD Kotim menyebut data luas lahan terbakar tersebut merupakan area yang diukur ketika kejadian berhasil ditangani petugas.
Data mengutamakan kecepatan pelaporan sehingga hasil pengolahan belum sepenuhnya stabil dan masih dapat berubah seiring kelengkapan data.
Dengan 6.793 hotspot dan lebih dari 1.400 hektare lahan terbakar, kondisi Kotim pada Agustus ini menunjukkan persoalan karhutla masih jauh dari selesai.
Karena itu, gambaran Kota Sampit yang terlihat bersih dari asap dalam sebuah unggahan tidak cukup menjadi indikator untuk menyimpulkan kondisi udara maupun situasi karhutla secara keseluruhan.
Data lapangan menunjukkan, ancaman kebakaran masih menyebar di sejumlah wilayah Kotim dan justru mengalami lonjakan tajam pada Agustus. (*)
Editor : Ayu Oktaviana