Pertamina Klaim Stok BBM Aman, Padahal Antrean SPBU di Kotim Panjang Bahkan Stok Habis

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 10:19 WIB
Sales Branch Manager Pertamina wilayah Kotim, Seruyan dan Katingan, Lutfi Hariyanto soal stok BBM.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Sales Branch Manager Pertamina wilayah Kotim, Seruyan dan Katingan, Lutfi Hariyanto soal stok BBM.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT-Sudah satu bulan ini masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) merasakan sulitnya mendapat Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite bersubsidi dan Pertamax nonsubsidi. 

Pasalnya, sejumlah SPBU di Kota Sampit, memiliki antrean yang panjang hingga memakan badan jalan. Kondisi itu terlihat pada antrean jenis Pertalite dan Pertamax. Bahkan, dibeberapa momen, BBM bahkan habis. 

Baca Juga: Sayembara Gubernur Agustiar Sabran: Warga Lapor Penimbun BBM, Hadiah Rp 8,1 Juta 

Di tengah kondisi itu, PT Pertamina Patra Niaga terus mengklaim ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dalam kondisi aman. Pernyataan itu belum sepenuhnya menjawab persoalan antrean panjang yang masih terjadi di sejumlah SPBU. 

Pertamina menyebut stok di Depot Sampit masih mencukupi, bahkan pasokan terus didatangkan. Namun di lapangan, masyarakat masih harus berhadapan dengan antrean panjang. 

Sales Branch Manager Pertamina wilayah Kotim, Seruyan dan Katingan, Lutfi Hariyanto, mengatakan stok Pertalite di Depot Sampit mencapai 3.165 kiloliter (KL) dan diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan hingga sekitar sepekan

“Untuk kondisi stok kami, ketersediaan stok kami saat ini di depot kami itu untuk Pertalite 3.165 KL,” kata Lutfi dalam rapat kerja DPRD Kotim, Rabu (26/8/2026) sore. 

Baca Juga: Masyarakat Kotim Gelar Salat Minta Hujan di Tengah Kepungan Karhutla

Selain Pertalite, stok Pertamax tercatat 1.189 KL, Bio Solar 3.637 KL, dan Pertamax Turbo 951 KL. Pertamax diperkirakan bertahan sekitar tujuh hari, sedangkan Bio Solar sekitar lima hari.

Antrean panjang tidak terlepas dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Sebelumnya, Pertamina mencatat adanya pergeseran konsumsi setelah harga Pertamax mengalami kenaikan pada 10 Juni 2026.

Pada periode Juni-Juli, permintaan Pertalite meningkat sekitar 5-7 persen. Sebaliknya, konsumsi Pertamax turun sekitar 26 persen.

“Memang tidak bisa dimungkiri masyarakat banyak beralih ke Pertalite dengan adanya kenaikan harga tersebut,” ujarnya.

Memasuki periode Juli-Agustus, permintaan Pertamax kembali mengalami peningkatan. Akibatnya, antrean mulai terlihat tidak hanya pada pengisian Pertalite, tetapi juga Pertamax.

Pertamina menyebut fenomena antrean serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain, termasuk Kotawaringin Barat dan Lamandau.

Baca Juga: Kuota BBM Bersubsidi RAPBN 2027 Dipangkas 58,5 Persen, Menkeu Ungkap Penyebabnya

Lutfi menjelaskan, distribusi BBM memang tidak dilakukan secara serentak ke seluruh SPBU. Pengiriman menyesuaikan kondisi stok di masing-masing SPBU.

“Mobil tangki itu kan tergantung jadwal pengiriman. Tergantung ketersediaan stok yang ada di masing-masing SPBU. Kan beda-beda. SPBU ini sudah habis, ini belum, ini habis,” jelasnya.

Menurut dia, Pertamina tidak mungkin mengirimkan mobil tangki ke SPBU yang stoknya masih tersedia karena armada tersebut harus bergerak memenuhi kebutuhan SPBU lain yang sudah mendesak.

“Kalau masih ada stoknya, masa dikirim lagi, luber nanti. Tergantung permintaan. Ketika mereka minta, kita kasih,” ujarnya.

Lutfi menyebut penyaluran BBM ke setiap SPBU juga tidak memiliki angka yang sama. Besarnya pasokan bergantung pada kebutuhan masing-masing SPBU dan jenis BBM yang dijual.

Untuk Pertalite, misalnya, penyaluran berada pada kisaran 8 hingga 24 KL per SPBU. Angka yang sama juga berlaku untuk Pertamax.

“Pertalite 8 sampai 24 KL,” kata Lutfi. 

“(Pertamax) 8 sampai 24 KL juga,” lanjutnya. 

Kondisi ini membuat pola distribusi setiap SPBU berbeda. SPBU yang stoknya masih mencukupi tidak langsung mendapat pengiriman baru, sementara armada tangki dapat dialihkan ke SPBU lain yang membutuhkan.

Baca Juga: Bukan Cuma Karhutla, Rumah Warga Ikut Jadi Sasaran Api di Kotim dalam Dua Hari

Persoalan lain muncul pada waktu-waktu tertentu, terutama sore hari. Antrean kendaraan cenderung mengular karena masyarakat yang pulang kerja maupun aktivitas sekolah datang pada waktu yang hampir bersamaan.

“Kalau sore hari itu dikarenakan kan orang pulang kerja, ya kan, anak sekolah juga ada yang pulangnya sore kan, menumpuk di sore hari,” ujarnya.

Menurutnya, mobil tangki harus bergerak secara dinamis berdasarkan kondisi stok di masing-masing SPBU. Ketika satu SPBU masih memiliki persediaan, armada dapat diarahkan ke SPBU lain yang lebih membutuhkan. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
pertalite PT Pertamina Patra Niaga bbm dprd kotim