SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya menyisakan asap yang berdampak pada kesehatan. Satwa liar yang berada di kawasan terdampak juga ikut menjadi korban. Mulai dari ular yang mati terbakar hingga burung yang belum mampu terbang menyelamatkan diri.
Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, mengatakan ular menjadi salah satu satwa yang paling banyak dilaporkan terdampak langsung setelah petugas melakukan pemadaman. Beberapa jenis yang ditemukan antara lain sanca kembang atau sanca batik, sanca depung, cobra, dan king cobra.
Baca Juga: Karhutla Mengamuk di Kotim, Seekor Ular Piton Mati Terpanggang
“Yang ditemukan adalah satwa liar jenis ular, seperti sanca kembang atau sanca batik, sanca depung, cobra, dan king cobra,” ujarnya, Kamis (27/8/2026).
Jumlah korban sebenarnya diyakini lebih besar dibandingkan temuan di permukaan. BKSDA menerima laporan belasan ular ditemukan mati, tetapi tidak seluruh bangkai dapat ditemukan karena sebagian satwa bersembunyi di dalam tanah.
“Laporan yang masuk sejauh ini baru belasan ekor, tetapi kemungkinan jumlah sebenarnya jauh lebih besar. Banyak ular bersembunyi di dalam tanah sehingga ketika terbakar bangkainya tidak semuanya bisa ditemukan,” katanya.
Dari bideo yang beredar, beberapa ular berukuran besar terlihat berada di lahan yang telah terbakar. Ia diduga tidak berhasil menghindari kepungan api. Dalam kejadian lainnya, seekor ular bahkan terlihat berada di sekitar telur-telurnya di tengah kawasan yang telah dilalap api.
Baca Juga: Orangutan Kabur dari Hutan yang Sudah Terbakar, Terekam Masuk Lahan Warga
Selain reptil, burung turut menghadapi ancaman serius. Anak burung yang belum memiliki kemampuan terbang menjadi kelompok yang paling rentan ketika api dan asap memasuki habitat mereka.
“Burung juga banyak yang terdampak, terutama anakannya yang belum dapat terbang. Mereka bisa mati karena terkena api secara langsung ataupun tidak mampu bertahan akibat kepulan asap,” ungkapnya.
Tidak semua satwa berakhir menjadi korban kebakaran secara langsung. Orangutan dan beruang madu, misalnya, cenderung meninggalkan kawasan yang terbakar untuk mencari tempat yang lebih aman.
Baca Juga: Karhutla di Kotim Makin Meluas, Dua Helikopter Water Bombing Segera Beroperasi
Perpindahan itu justru membawa persoalan baru karena satwa dapat memasuki perkebunan, ladang, bahkan kawasan yang berdekatan dengan rumah penduduk.
“Untuk satwa seperti orangutan dan beruang madu, dampaknya lebih banyak membuat mereka berpindah. Mereka akan mencari kawasan yang lebih aman, termasuk masuk ke kebun, ladang atau lingkungan yang dekat dengan permukiman,” jelasnya.
Menurut dia, kawasan yang didatangi satwa tersebut biasanya masih memiliki air dan sumber makanan. Parit maupun sumur dapat menjadi sumber air, sedangkan tanaman milik warga berpotensi menjadi sumber pakan.
“Ketika masuk ke kebun, mereka masih bisa menemukan air dari parit atau sumur. Pakan pun ada, misalnya buah, nanas dan umbut kelapa sawit yang ditanam warga,” katanya.
Baca Juga: Masyarakat Kotim Gelar Salat Minta Hujan di Tengah Kepungan Karhutla
Situasi itu meningkatkan kemungkinan terjadinya pertemuan antara manusia dengan satwa liar. Warga yang bekerja di kebun maupun ladang dapat berhadapan langsung dengan satwa yang sebelumnya hidup jauh dari aktivitas manusia.
BKSDA Sampit juga memperoleh laporan mengenai kemunculan orangutan di sekitar ruas Jalan Sampit-Kota Besi. Petugas berencana mendatangi lokasi untuk memastikan keberadaan dan kondisi satwa tersebut.
Ancaman karhutla terhadap satwa juga belum berhenti. Selain ular, burung, orangutan, dan beruang madu, BKSDA memperoleh informasi adanya biawak yang diduga menjadi korban kebakaran.
Rangkaian temuan tersebut menunjukkan karhutla membawa dampak lebih luas dari sekadar kerusakan vegetasi. (*)
Editor : Ayu Oktaviana