Ada 8 Bangunan di Kotim yang Terbakar Sepanjang Status Tanggap Darurat Karhutla

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:29 WIB
Bangunan turut terbakar.(Facebook)
Bangunan turut terbakar.(Facebook)

 SAMPIT – Kobaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menunjukkan ancamannya terhadap bangunan warga. Total ada 8 bangunan terbakar.

Sebuah pondok kayu berlantai dua di Jalan MT Haryono Barat, belakang Werra, Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, habis dilalap api setelah kebakaran lahan merambat ke bangunan tersebut, Kamis (27/8/2026).

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Saat api mencapai pondok, pemilik bangunan sedang tidak berada di tempat sehingga tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Lurah Mentawa Baru Hulu, Iwansyah, mengatakan ketika bangunan mulai terbakar, petugas bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) sebenarnya tengah berjibaku memadamkan kebakaran lahan di kawasan sekitar permukiman.

“Waktu itu kami sedang fokus memadamkan api di belakang Perumahan Borobudur. Saat bersamaan, kobaran dari lahan belakang Werra ternyata bergerak ke arah pondok hingga akhirnya bangunan itu ikut terbakar,” jelasnya, Jumat (28/8/2026).

Pondok tersebut merupakan bangunan kayu yang dimanfaatkan untuk keperluan di sekitar kebun. Bangunan itu juga menjadi tempat singgah orang tua pemilik ketika berada di kawasan tersebut.

“Bangunannya berupa pondok kayu yang biasa dipakai untuk keperluan di kebun dan tempat singgah. Pemiliknya adalah orang tua yang selama ini menggunakan pondok tersebut,” ungkapnya.

Yang membuat kejadian itu semakin mengkhawatirkan, kebakaran lahan di belakang Werra bukan kejadian baru. Menurut Iwansyah, kawasan tersebut telah beberapa kali terbakar dalam dua hingga tiga pekan terakhir.

Api sempat berhasil dikendalikan setelah dilakukan pemadaman oleh petugas dan relawan. Namun, titik panas kembali muncul pada Kamis siang dan akhirnya menjalar hingga ke pondok warga.

“Lahannya gambut, jadi meskipun api di permukaan terlihat sudah mati, bara di bawah tanah kemungkinan masih bertahan. Ketika terkena angin, api bisa muncul kembali dan bergerak ke bagian lain,” terangnya.

Tim gabungan akhirnya berhasil mengendalikan kebakaran lahan di sekitar lokasi. Namun, bangunan pondok kayu tidak dapat diselamatkan dan seluruhnya terbakar.

Delapan Bangunan Terbakar Sejak Status Darurat

Kebakaran pondok di Jalan MT Haryono Barat menambah panjang daftar bangunan yang terbakar selama periode rawan karhutla di Kotim.

Berdasarkan data yang dihimpun, sedikitnya delapan kejadian kebakaran bangunan tercatat sejak status tanggap darurat karhutla dan kekeringan diberlakukan pada 30 Juli 2026.

Rangkaian tersebut dimulai pada 7 Agustus, ketika sebuah rumah semi permanen di Jalan DI Panjaitan, belakang SDN 3 Ketapang, Mentawa Baru Ketapang, terbakar.

Kemudian pada 11 Agustus, kebakaran di Jalan Muchran Ali, Kecamatan Baamang, menyebabkan empat rumah dan satu gudang hangus. Tiga bangunan lainnya turut terdampak.

Pada 15 Agustus, sebuah rumah semi permanen di Jalan Diponegoro, Gang Garuda 2, Kelurahan Kota Besi Hilir, Kecamatan Kota Besi, ikut terbakar.

Dua hari kemudian, 17 Agustus, api menyasar gudang penyimpanan alat tulis sekolah di Jalan SPG Permai, Mentawa Baru Ketapang.

Berikutnya pada 21 Agustus, sebuah rumah kayu kosong di Jalan Pelita Barat, Gang Swadaya, Mentawa Baru Ketapang, terbakar. Lokasinya berada di sekitar kawasan yang juga mengalami kebakaran lahan.

Pada 25 Agustus, dua bangunan kembali menjadi korban. Bangunan bekas kandang babi di Jalan Pengaringan terbakar setelah api di lahan sekitar kembali muncul. Pada malam harinya, rumah di Jalan Batu Mutiara juga dilanda kebakaran.

Sehari setelahnya, 26 Agustus, kebakaran terjadi di Perumahan Sinar Fajar, Jalan Ir Soekarno. Gudang produksi batako dan penyimpanan pupuk terbakar, disusul sebuah rumah yang juga digunakan sebagai pangkalan elpiji.

Kebakaran terbaru di Jalan MT Haryono Barat kembali memperlihatkan pola yang patut diwaspadai: api dari lahan kering dapat bergerak mendekati bangunan, terlebih ketika kawasan yang terbakar merupakan lahan gambut dengan bara yang dapat bertahan di bawah permukaan.

Di tengah kemarau dan keterbatasan sumber air, ancaman karhutla di Kotim kini bukan lagi sekadar persoalan lahan terbakar. Ketika titik api berada di dekat hunian, pondok, gudang maupun fasilitas usaha, keselamatan bangunan dan warga ikut berada dalam garis bahaya. (*)

Editor : Agus Pramono
bangunan terbakar kotim karhutla