SAMPIT- Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), Agustiar Sabran, menyebut kebakaran hutan dan lahan di Kalteng masuk 10 besar kejadian secara nasional.
“Kita urutan sembilan se-Indonesia yang kebakarannya. Kalau nomor satu Kalbar,” ujarnya saat kunjungan ke Sampit, Jumat (28/8/2026) sore.
Baca Juga: Kotim Masuk Tiga Besar Nasional, Kalteng Kuasai Daftar Daerah dengan Udara Terburuk Hari Ini
Ia menyebut, luasan lahan yang terbakar tahun ini mencapai lebih dari tujuh ribu hektare.
Angka itu menurutnya masih lebih rendah dari kejadian kebakaran lahan beberapa tahun sebelumnya.
“kalau dibanding-banding tahun-tahun sebelumnya, sekarang baru hampir delapan ribu. Kalau sebelum-sebelumnya hampir 12 ribu, bahkan lebih,” katanya.
Ia menegaskan pengendalian karhutla tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah. Peran masyarakat menjadi bagian penting untuk mencegah munculnya titik api baru.
Baca Juga: Gubernur Kalteng Siapkan Rp5 Juta bagi Pelapor Pembakar Karhutla
“Kalau masyarakat ikut menjaga dan tidak membuka peluang munculnya api, upaya penanganan akan jauh lebih efektif. Jangan sampai kelalaian kecil berubah menjadi masalah besar,” ujarnya.
Agustiar juga menyebut karakter kebakaran di Kalteng cukup beragam. Selain lahan gambut, api kerap muncul pada kawasan semak belukar yang mudah terbakar ketika kondisi lingkungan sangat kering.
Untuk kawasan Sampit, lapisan gambut disebut relatif tidak sedalam sejumlah daerah lainnya. Kendati demikian, penanganan tetap harus dilakukan secara serius karena kondisi setiap lokasi memiliki tantangan masing-masing.
Wilayah dengan gambut lebih dalam, termasuk Pulang Pisau dan Palangka Raya, menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian dalam pengendalian karhutla. Namun, pemerintah memastikan wilayah lain tetap menjadi bagian dari pemantauan.
“Setiap wilayah mempunyai karakter berbeda sehingga cara penanganannya juga harus menyesuaikan kondisi di lapangan,” jelasnya.
Baca Juga: Manugal, Bakar Lahan lalu Tanam Padi: Kearifan Lokal yang Berhadapan Dengan Jeruji Besi
Selain menghadapi ancaman kebakaran, kemarau panjang juga mulai berdampak pada ketersediaan air bersih di Kotawaringin Timur. Persoalan tersebut turut menjadi perhatian dalam kunjungan Forkopimda Provinsi Kalteng.
Sebagai bentuk dukungan, sebanyak 17 truk air bersih dikirim ke wilayah yang membutuhkan pasokan. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar selama sumber air mengalami penurunan.
Agustiar menyebut penanganan dampak kemarau harus dilakukan secara bersamaan, baik terhadap ancaman api maupun keterbatasan air. Pemerintah bersama masyarakat diminta tidak menunggu situasi memburuk sebelum mengambil langkah pencegahan.
“Musim kering membawa lebih dari satu persoalan. Karena itu, kesiapan menghadapi kebakaran harus berjalan beriringan dengan memastikan masyarakat tetap mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana