Langit Pelantaran Memerah Tadi Malam, Api Karhutla Membesar hingga Ancam Permukiman

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 12:27 WIB
Karhutla di Desa Pelantaran Kotim tadi malam.(Tangkapan layar)
Karhutla di Desa Pelantaran Kotim tadi malam.(Tangkapan layar)

SAMPIT – Langit malam di Desa Pelantaran, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, berubah merah pada Selasa (1/9/2026) malam. Cahaya kobaran api dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menerangi kawasan sekitar hingga menimbulkan kekhawatiran warga yang tinggal di sepanjang jalan desa.

Kebakaran yang membesar setelah malam itu diperkirakan melalap 15 hingga 20 hektare kawasan gambut. Api bahkan sempat berada dalam radius sekitar 300 meter dari rumah warga.

Pemandangan langit yang memerah kemudian direkam warga dan menjadi perhatian setelah videonya beredar di media sosial.

Kepala Desa Pelantaran, Sumantri, mengatakan kebakaran sudah mulai terdeteksi sejak Selasa sekitar pukul 11.00 WIB. Namun situasi berubah drastis ketika api terus menjalar dan kobarannya semakin jelas terlihat pada malam hari.

Baca Juga: Langkah Pemprov Kalteng Usai Tanggap Darurat Karhutla, Bangun Sumur Bor, Rp72 Miliar Siap Dipakai

“Kalau malam, cahaya apinya menyala dari berbagai arah. Warga jadi cemas karena di sepanjang kawasan jalan itu banyak rumah,” ujar Sumantri, Rabu (2/9/2026).

Kondisi tersebut membuat warga, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, tim pemadam perusahaan perkebunan hingga pemilik kebun turun bersama-sama. Prioritas utama saat itu adalah mencegah kebakaran mencapai permukiman.

Warga yang memiliki kolam dan sumber air turut menyiapkan persediaan untuk membantu pemadaman. Sementara sejumlah lainnya berjaga di sekitar rumah masing-masing.

“Tidak ada yang tinggal diam. Yang bisa membantu air menyiapkan air, yang lain ikut berjaga. Semua khawatir kalau api bergerak lebih dekat ke rumah,” katanya.

Tim dari sejumlah perusahaan perkebunan turut dikerahkan ke lokasi. PT BGA menurunkan dua regu pemadam, disusul bantuan personel dari perusahaan lain dan unsur pemerintah.

Api yang berada di sekitar permukiman akhirnya dapat dikendalikan setelah operasi pemadaman berlangsung hingga sekitar pukul 04.00 WIB. Namun, penanganan belum berakhir karena kebakaran terjadi di kawasan gambut.

Rabu pagi, beberapa lokasi kembali mengeluarkan asap dan memperlihatkan nyala api. Tim gabungan pun harus kembali melakukan pemadaman.

“Karakter gambut memang seperti itu. Bagian atasnya bisa kelihatan sudah padam, tetapi bara masih tersimpan di dalam tanah. Pagi tadi ada titik yang aktif lagi dan langsung kami tangani,” ungkap Sumantri.

Ia memperkirakan luas kawasan hutan yang rentan terbakar di sekitar lokasi mencapai sekitar 200 hektare. Meski kobaran api sempat membuat langit malam memerah dan menimbulkan kepanikan, tidak ada korban jiwa maupun rumah warga yang terbakar.

Hingga Rabu siang, petugas masih melakukan pemantauan terhadap titik-titik yang berpotensi kembali menyala.

 

Bagi Sumantri, kebakaran tersebut merupakan yang terbesar sejak dirinya menetap di Desa Pelantaran pada tahun 2000.

“Selama puluhan tahun tinggal di sini, kebakaran biasanya masih kecil-kecil. Yang terjadi semalam benar-benar berbeda karena apinya jauh lebih besar,” ujarnya.

Ia berharap kemampuan desa menghadapi karhutla dapat diperkuat dengan tambahan peralatan dan armada pemadam. Dukungan dari perusahaan sekitar diakui sangat membantu, tetapi penanganan awal juga perlu ditunjang sarana yang memadai di tingkat desa.

“Bantuan dari perusahaan sangat berarti. Namun kami juga berharap desa-desa yang rawan memiliki peralatan yang cukup, sehingga api bisa segera ditangani sebelum membesar,” pungkasnya. (*)

Editor : Agus Pramono
kebakaran lahan pelantaran langit merah karhutla kotim karhutla