Hotspot Karhutla Kotim Meledak, Bertambah 9 Ribu Titik dalam 11 Hari

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 15:31 WIB
Pemadaman api di lahan terbakar.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Pemadaman api di lahan terbakar.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), belum menunjukkan tanda mereda. Dalam waktu hanya 11 hari, jumlah titik panas yang terpantau melonjak lebih dari dua kali lipat.

Catatan terbaru Satgas Karhutla Kotim hingga Selasa (1/9/2026) malam menunjukkan terdapat 15.842 hotspot. Padahal pada 21 Agustus lalu, jumlahnya masih 6.793 titik. Dengan demikian, dalam kurun waktu tersebut terjadi penambahan sebanyak 9.049 hotspot.

Baca Juga: Kemarau dan Karhutla Berdampak Kepada Hasil Panen dan Pendapatan Petani di Sampit

Lonjakan titik panas itu berjalan beriringan dengan meningkatnya aktivitas kebakaran di lapangan. Total kejadian karhutla kini tercatat mencapai 639 kasus, dengan luas area yang terbakar mencapai 1.625,58 hektare.

Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan ancaman kebakaran masih sangat tinggi. Tim gabungan pun masih menemukan kejadian baru meski operasi pemadaman terus dilakukan.

“Situasi di lapangan masih dinamis. Sampai pembaruan terakhir, ratusan kejadian sudah tercatat dan dalam sehari terakhir saja masih ada puluhan lokasi yang harus ditangani,” ujarnya, Rabu (2/9/2026).

Dalam laporan sebelumnya, hingga 21 Agustus tercatat 420 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar 1.412,14 hektare. Artinya, dalam 11 hari jumlah kejadian bertambah 219 kasus, sedangkan luasan kebakaran meningkat sekitar 213,44 hektare.

Satgas mencatat, 22 kejadian kebakaran masih ditangani dalam kurun sehari terakhir. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena sebagian wilayah Kotim masih menghadapi cuaca panas dan minim hujan.

Baca Juga: Langit Pelantaran Memerah Tadi Malam, Api Karhutla Membesar hingga Ancam Permukiman

Rihel menyebut tingginya deteksi hotspot menjadi sinyal bahwa kondisi vegetasi dan lahan di sejumlah kawasan masih mudah terbakar. Titik panas juga berpotensi berkembang menjadi kebakaran apabila tidak segera ditangani.

Sejumlah wilayah sebelumnya tercatat memiliki aktivitas karhutla cukup tinggi. Berdasarkan data per 21 Agustus, Mentaya Hilir Selatan menjadi kecamatan dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 1.485 titik. Berikutnya Teluk Sampit 1.156 titik, Baamang 725 titik, Mentawa Baru Ketapang 698 titik dan Kota Besi 678 titik.

Jika dilihat berdasarkan luas area yang terbakar, Seranau menjadi wilayah dengan dampak terbesar, mencapai sekitar 703,5 hektare. 

Mentawa Baru Ketapang menyusul dengan 250,2 hektare, kemudian Baamang 139,6 hektare, Mentaya Hilir Utara 83,2 hektare dan Pulau Hanaut 82,6 hektare.

Kota Besi juga masih menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian Satgas.

 Sejumlah desa di kecamatan tersebut sempat mengalami kebakaran lahan selama periode kemarau, termasuk Camba dan Soren.

Baca Juga: Kasus Karhutla Desa Camba Naik Penyidikan, Polres Kotim Segera Tetapkan Tersangka

Untuk menekan perluasan api, personel gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan dan unsur lainnya terus dikerahkan.

Penanganan dilakukan melalui patroli, pemantauan titik panas hingga pemadaman langsung di lokasi kejadian.

Rihel kembali meminta masyarakat tidak mengambil risiko dengan membakar lahan, terutama ketika kondisi lingkungan masih kering.

“Di tengah kondisi seperti sekarang, api sekecil apa pun bisa berubah menjadi persoalan besar. Karena itu masyarakat lebih baik mencegah daripada membiarkan api berkembang dan kemudian sulit dikendalikan,” imbuhnya.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
satgas karhutla kotim kebakaran karhutla pemadaman