Seberapa Penting Penggunaan Masker saat Kabut Asap? Begini Penjelasan dari Ahlinya

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 15:00 WIB
Pembagian masker olah Tim PKK Kotim.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)
Pembagian masker olah Tim PKK Kotim.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)

 

SAMPIT – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mencemari udara membuat penggunaan masker menjadi perlindungan penting bagi masyarakat. Partikel halus dalam asap, terutama PM 2.5, dapat masuk hingga ke dalam paru-paru dan memicu berbagai gangguan pernapasan.

Kepala Bidang Pelayanan Medik, dr. Candra Eriyanto, menegaskan masker merupakan salah satu pertahanan terdepan untuk membatasi paparan langsung terhadap partikel berbahaya di tengah kondisi udara yang tercemar asap.

Baca Juga: Inovasi Cairan Shabodama Diklaim Mampu Tekan Penggunaan Air untuk Padamkan Karhutla Gambut

“Di tengah kondisi udara Sampit yang saat ini tercemar kabut asap karhutla, penggunaan masker itu sangat penting bagi kita semua,” katanya kepada Kaltengpos.jawapos.com, Kamis (3/9/2026). 

Menurut dr Candra, berdasarkan panduan kesehatan, salah satu langkah utama menghadapi polusi adalah membatasi paparan langsung. Penggunaan masker dinilai dapat membantu mencegah partikel kotor terhirup ke dalam saluran pernapasan.

“Memakai masker adalah pertahanan terdepan kita agar partikel kotor tidak terhirup dan merusak saluran pernapasan,” ujarnya.

Dr Candra mengatakan masker respirator jenis N95 menjadi pilihan paling ideal digunakan saat menghadapi kabut asap karhutla. Masker tersebut mampu menyaring partikel halus PM 2.5 yang menjadi salah satu ancaman utama dari asap pembakaran.

“Paling ideal untuk menghadapi karhutla adalah masker respirator N95, karena pori-porinya mampu menyaring partikel halus PM 2.5 yang jadi ancaman utama asap pembakaran,” jelasnya.

Jika masker N95 tidak tersedia, masyarakat masih dapat menggunakan masker bedah sebagai perlindungan minimal. Namun, ia menyarankan masyarakat untuk tidak mengandalkan masker kain dalam kondisi kabut asap.

Baca Juga: Dua Relawan Karhutla di Kalteng Meninggal Dunia, Gugur Setelah Berjuang Padamkan Api

“Kalau terpaksa dan N95 tidak ada, masker bedah biasa masih boleh dipakai sebagai perlindungan minimal. Tapi saya sarankan untuk menghindari masker kain karena tidak efektif menahan partikel mikroskopis asap,” bebernya.

Penggunaan masker, lanjutnya, tidak selalu diperlukan ketika berada di dalam ruangan. Namun, hal itu bergantung pada kondisi ruangan dan kemungkinan masuknya asap dari luar.

“Jika ruangan kita tertutup rapat, pakai AC dengan filter yang baik, atau ada penjernih udara, kita aman tidak pakai masker. Tapi kalau rumah atau kantor masih banyak celah ventilasi dan asap dari luar bisa masuk ke dalam, saya sarankan tetap pakai masker demi perlindungan optimal,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi masker yang digunakan. Masker N95 tidak boleh digunakan terlalu lama, terutama ketika telah kotor, basah, atau membuat pemakainya kesulitan bernapas.

Baca Juga: Kemarau dan Karhutla Berdampak Kepada Hasil Panen dan Pendapatan Petani di Sampit

“Untuk masker N95, idealnya diganti dalam satu sampai dua hari pemakaian di tengah polusi pekat, atau harus langsung diganti jika sudah kotor, basah oleh keringat, atau rasanya sudah mulai berat saat bernapas,” bebernya.

Sementara masker bedah yang bersifat sekali pakai harus segera diganti setelah digunakan selama beberapa jam atau ketika sudah lembap.

“Sedangkan untuk masker bedah, sifatnya sekali pakai dan harus diganti setelah beberapa jam penggunaan atau langsung dibuang jika sudah lembap,” ujarnya.

Dr Candra menjelaskan, bahaya utama kabut asap berasal dari partikel berukuran sangat kecil seperti PM 2.5. Ukurannya yang mikroskopis membuat partikel tersebut dapat melewati sistem penyaringan alami tubuh dan masuk lebih dalam ke saluran pernapasan.

“Partikel halus seperti PM 2.5 berukuran sangat kecil sehingga bisa lolos dari hidung dan menembus sampai ke dalam paru-paru,” katanya.

Paparan partikel tersebut dapat memicu gangguan kesehatan, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), memperburuk asma, hingga menyebabkan bronkitis.

Baca Juga: Karhutla Kotim Makin Mengkhawatirkan, BKSDA Sampit: 5 Orangutan dan 1 Tenggiling Diselamatkan

Kelompok tertentu pun diminta mendapatkan perlindungan lebih ketat. Anak-anak, balita, ibu hamil, lansia, hingga penderita penyakit pernapasan disebut lebih rentan mengalami gangguan kesehatan saat terpapar asap.

“Kelompok yang paling rentan dan harus kita proteksi ekstra meliputi anak-anak dan balita yang saluran pernapasannya masih berkembang, ibu hamil, lansia, serta pasien yang sudah memiliki riwayat penyakit seperti asma dan alergi, karena kondisi mereka jauh lebih cepat turun jika terpapar asap,” pungkasnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
Masker N95 kabut asap gangguan pernapasan karhutla Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)