SAMPIT-Sebanyak 796 titik panas terdeteksi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam pembaruan terakhir. Pada saat yang sama, tim penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menemukan 22 lokasi kebakaran yang harus mendapat penanganan.
Aktivitas api yang masih tinggi tersebut membuat ancaman kabut asap belum berakhir.
Dalam beberapa waktu terakhir, asap kembali terasa di sejumlah wilayah Kotim dan cenderung menebal ketika malam hingga pagi.
Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan angka tersebut merupakan hasil pembaruan data hingga Rabu (2/9/2026) malam.
“Dalam pemantauan terakhir, masih ada ratusan titik panas yang terdeteksi dalam sehari. Di lapangan, kami juga masih menemukan puluhan lokasi kebakaran yang harus segera ditangani,” ujarnya, Kamis (3/9/2026).
Data tersebut menunjukkan petugas belum dapat menurunkan kewaspadaan. Kemunculan titik panas masih terjadi di tengah operasi pemadaman yang dilakukan di sejumlah kawasan rawan.
Menurut Rihel, pemantauan terus dilakukan untuk memastikan setiap titik yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran dapat diketahui lebih awal.
“Situasinya masih harus diawasi secara ketat. Kalau ada api yang terlambat diketahui, terutama saat kondisi lahan sedang sangat kering, penyebarannya bisa menjadi lebih sulit dikendalikan,” katanya.
Dampak kebakaran tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi api. Asap yang terbentuk dari sejumlah titik kebakaran ikut memengaruhi kondisi udara, terutama ketika angin membawa polutan ke kawasan permukiman.
Kondisi tersebut terlihat dari kualitas udara Kotim yang sempat mencatat angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) 451. Nilai itu telah masuk kategori berbahaya.
Rihel mengimbau masyarakat untuk memperhatikan perubahan kondisi udara dan tidak memaksakan aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap mulai menebal.
“Apabila udara sudah memburuk, masyarakat sebaiknya mengurangi kegiatan di luar. Gunakan juga perlindungan yang sesuai apabila memang harus beraktivitas di luar rumah,” ujarnya.
Di tengah kemarau yang belum berakhir, Satgas Karhutla masih mengerahkan personel untuk memantau titik panas sekaligus menangani lokasi kebakaran.
Upaya itu dilakukan agar api dapat dihentikan sebelum meluas dan menghasilkan kepulan asap yang semakin memperburuk kualitas udara. (*)
Editor : Ayu Oktaviana