SAMPIT – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akan mendapat tambahan kekuatan. Sebanyak 10 unit mobil tangki pemadam segera diperbantukan untuk mendukung operasi di wilayah yang masih dilanda kebakaran.
Tujuh armada direncanakan ditempatkan di Posko Penanggulangan Karhutla Kotim. Sementara tiga unit lainnya akan disiagakan di tiga kecamatan yang membutuhkan dukungan penanganan kebakaran lebih dekat.
Bupati Kotim Halikinnor mengatakan informasi mengenai bantuan armada tersebut diperoleh melalui Komandan Kodim (Dandim) 1015/Sampit.
Baca Juga: 69 Saksi Diperiksa Polisi dalam Kasus Karhutla di Kotim
“Kami mendapat kabar bahwa ada bantuan 10 kendaraan tangki untuk memperkuat operasi pemadaman di Kotim. Tentu ini menjadi tambahan yang sangat berarti bagi kami,” ujar Halikinnor, Kamis (3/9/2026).
Tiga kecamatan yang dipilih sebagai lokasi penempatan armada yakni Mentawa Baru Ketapang, Mentaya Hilir Utara dan Kota Besi.
Menurut Halikinnor, keberadaan mobil tangki di kecamatan akan mempersingkat waktu pengerahan armada apabila kebakaran terjadi.
Ketiga wilayah tersebut juga memiliki kawasan yang perlu mendapatkan perhatian karena terdapat permukiman dan akses yang berpotensi menyulitkan penanganan apabila api membesar.
“Tidak semuanya kami pusatkan di posko. Ada tiga kendaraan yang akan ditempatkan lebih dekat ke wilayah rawan, supaya respons pemadaman tidak selalu harus menunggu armada bergerak dari pusat,” katanya.
Pengoperasian kendaraan di tingkat kecamatan nantinya melibatkan koordinasi antara pemerintah daerah dan unsur keamanan.
Camat bersama jajaran kepolisian dan TNI di wilayah masing-masing akan membantu mengoordinasikan pemanfaatan armada tersebut.
Halikinnor mengatakan tambahan mobil tangki sangat dibutuhkan di tengah situasi kemarau yang menyebabkan sejumlah sumber air mengalami penurunan debit. Kondisi itu kerap membuat proses pengisian air untuk kebutuhan pemadaman membutuhkan waktu lebih lama.
“Armada tambahan ini diharapkan membantu petugas bergerak lebih cepat, terutama ketika pasokan air dan jarak menuju lokasi pengambilan air menjadi kendala di lapangan,” pungkasnya. (*)
Editor : Agus Pramono