Warga Samuda Temukan Sapundu Masih Tegak Berdiri di Tengah Lahan Terbakar

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 11:25 WIB
Sapundu di lahan kosong kawasan Jalan Haji Usup.(Warga)
Sapundu di lahan kosong kawasan Jalan Haji Usup.(Warga)

 

SAMPIT – Sebuah sapundu atau patung kayu yang berkaitan dengan tradisi masyarakat Dayak ditemukan di lahan kosong kawasan Jalan Haji Usup, Kelurahan Basirih Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). 

Benda bersejarah itu baru diketahui keberadaannya setelah lahan sekitar satu hektare tersebut terbakar.

Ketua RW 07, Ruspandi, mengatakan keberadaan sapundu tersebut cukup mengejutkan warga. Pasalnya, lahan itu sebelumnya sempat dimanfaatkan warga untuk menanam padi. Namun tidak ada yang mengetahui adanya sapundu di lokasi tersebut.

“Kita bingung di situ. Masalahnya kan di situ yang tanam padi itu bukan orang Dayak. Jadi mungkin mereka enggak tahu bahwa itu sapundu,” ujarnya saat diwawancarai Kaltengpos.jawapos.com, Jumat (4/9/2026). 

Baca Juga: Orangutan Sempurna di Kalbar Akhirnya Mati Diduga akibat Asap Karhutla

Menurut Ruspandi, lahan tersebut dulunya merupakan lahan kosong dan semak belukar. Warga kemudian meminjamnya untuk menggarap tanaman padi hingga dua musim tanam.

Namun, kawasan tersebut diketahui telah beberapa kali mengalami kebakaran. Bahkan, menurut Ruspandi, kebakaran kembali terjadi sekitar satu bulan lalu. Kondisi itu membuat warga bersama aparat kepolisian sempat melakukan pemadaman.

“Itu kan dua kali kebakaran sudah lahan itu. Kalau dulu-dulu itu sering juga kebakaran. Nah ternyata tahun ini ada muncul itu sapundu,” ungkapnya.

Meski berada di area yang terbakar, sapundu tersebut ternyata masih dalam kondisi relatif utuh. Bagian bentuk tubuh hingga tangannya masih terlihat jelas. Sementara api hanya mengenai bagian atas sapundu atau kepala. 

“Cuma di atas kepalanya aja ada sedikit (terbakar). Sapundunya masih utuh. Kelihatan tangannya, bentuk badannya masih utuh. Cuma di atasnya aja ada sedikit terbakar,” jelasnya. 

Sapundu tersebut diperkirakan memiliki tinggi sekitar satu meter dari permukaan tanah. Materialnya yang diduga merupakan kayu ulin membuat benda tersebut mampu bertahan meski sempat terpapar api.

“Kalau badannya itu tidak terbakar. Karena itu kayu ulin, mungkin sedikit aja kenanya,” katanya.

“Lokasi sapundu berada sekitar 100 meter dari Jalan Haji Usup agak masuk ke bagian tengah lahan,” lanjutnya. 

Penemuan pertama kali diketahui oleh seorang warga sekitar bernama zulkifli. Menurut Ruspandi, penemuan itu terjadi sekitar awal pekan lalu. 

“Ditemukan warga situ sekitar Senin atau Selasa tadi,” bebernya. 

Keberadaan sapundu tersebut semakin menarik perhatian. Pasalnya kawasan itu disebut dulunya merupakan lokasi permukiman masyarakat Dayak.

Ruspandi mengatakan selain sapundu, sejumlah benda yang diduga berkaitan dengan kehidupan masyarakat Dayak juga pernah ditemukan di sekitar kawasan tersebut.

Baca Juga: Inovasi Cairan Shabodama Diklaim Mampu Tekan Penggunaan Air untuk Padamkan Karhutla Gambut

“Di situ memang banyak dulu. Persisnya memang ada dulu pemukiman suku Dayak. Ada yang seperti pengayuh sampan, ada tempat air minumnya orang Dayak yang berbentuk ulin besar,” tuturnya.

Benda-benda tersebut tidak seluruhnya ditemukan saat kebakaran. Sebagian diketahui warga ketika kawasan tersebut masih dimanfaatkan untuk berkebun.

Bahkan, Ruspandi menyebut pernah ada warga yang menemukan potongan kayu dengan bentuk menyerupai ukiran wajah. Namun benda itu justru dibuang kembali karena penemunya tidak mengetahui nilai atau fungsi benda tersebut.

“Dia cuci di batang (lanting) melihat kayu besar, ada lukisan mulut, telinga. Lalu dia buang lagi. Katanya dia enggak tahu,” katanya.

Menurut Ruspandi, warga yang selama ini menggarap lahan tersebut memang tidak mengetahui adanya sapundu maupun peninggalan lain di kawasan itu. 

Terlebih, lahan tersebut disebut telah lama tidak digarap oleh pemiliknya sebelum kemudian dimanfaatkan warga untuk bertanam padi. (*)

Editor : Agus Pramono
sapundu sapundu dayak samuda kotim karhutla