Habitat Orang Utan Kalimantan Terancam, Lebih dari Separuh Kawasannya Terdampak Karhutla

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 17:00 WIB
Orangutan induk dan anak dievakuasi usai terjebak.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Orangutan induk dan anak dievakuasi usai terjebak.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan sepanjang Juni hingga Agustus 2026 menyisakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup orang utan. 

Bukan hanya tutupan hutan yang lenyap, satwa endemik tersebut juga menghadapi menyusutnya ruang untuk mencari makan, berlindung, dan berkembang biak.

Baca Juga: Orangutan Sempurna di Kalbar Akhirnya Mati Diduga akibat Asap Karhutla

Temuan organisasi kampanye lingkungan dan satwa liar Geopix menunjukkan tingginya tekanan tersebut. Hasil analisis spasial yang dilakukan selama tiga bulan menemukan 78,5 persen titik panas (hotspot) di Kalimantan berada di kawasan habitat orang utan.

Senior Wildlife Campaigner Geopix Annisa Rahmawati menilai angka itu memperlihatkan bahwa persoalan karhutla tidak bisa dilepaskan dari aktivitas manusia.

“Inilah yang kami namakan human-made disaster dalam konteks karhutla. Jadi sebenarnya karhutla itu bukan sesuatu yang alami, tetapi itu dibuat oleh manusia,” kata Annisa mengutip Suara, Selasa (8/9/2026). 

Menurut dia, kerusakan yang ditimbulkan api terhadap ekosistem orang utan jauh lebih luas daripada sekadar hilangnya pepohonan. Musnahnya tumbuhan di dalam hutan sekaligus berarti hilangnya sumber pangan dan tempat satwa tersebut menjalani kehidupannya.

Buah, getah, dan berbagai bagian tumbuhan yang menjadi sumber nutrisi orang utan ikut lenyap ketika vegetasi terbakar. Jika kondisi itu terus terjadi, kemampuan satwa bertahan di habitat alaminya semakin terancam.

Baca Juga: Karhutla Kotim Makin Mengkhawatirkan, BKSDA Sampit: 5 Orangutan dan 1 Tenggiling Diselamatkan

“Kalau itu pohonnya habis, kemudian tidak ada buah yang dimakan, tidak ada getah yang dimakan oleh orangutan, ya berarti kita akan menyaksikan bagaimana pembunuhan masal terhadap orangutan itu kalau kita tidak segera mengatasi dampak karhutla yang seperti mata rantai yang enggak pernah terputus ini ya,” tuturnya.

Peningkatan ancaman tersebut terlihat semakin jelas memasuki Agustus. Dari pemantauan yang dilakukan Geopix, jumlah titik panas di kawasan habitat orang utan menunjukkan lonjakan dibandingkan periode sebelumnya.

Annisa menyebut salah satu kelompok yang paling terdampak adalah subspesies Pongo pygmaeus wurmbii. Konsentrasi titik panas ditemukan berada di wilayah yang menjadi ruang jelajah subspesies tersebut.

“Temuan utama kami bahwa peta sebaran hotspot mulai Juni sampai Agustus, terjadi peningkatan yang luar biasa di bulan Agustus, di mana kita temukan bahwa 78,5 persen hotspot itu berada di habitat orang utan kalimantan,” ungkapnya.

Baca Juga: Induk dan Anak Orangutan Terjebak Karhutla Dievakuasi BKSDA dan OFI Menjalani Pemeriksaan Kesehatan

Tak berhenti pada pendataan titik panas, Geopix turut menghitung luasan habitat orangutan yang terdampak kebakaran dalam periode yang sama.

“Jadi luas habitat orangutan yang terbakar dalam periode pemantauan mulai Juni sampai Agustus itu adalah 25.812.600-an hektar. Nah, itu sekitar 60,2 persen dari total luasan habitat orang utan kalimantan,” ujarnya.

Kerusakan habitat dalam luasan besar berpotensi membuat kawasan yang sebelumnya menjadi satu kesatuan terpecah menjadi kantong-kantong habitat. Situasi tersebut menyulitkan orang utan mendapatkan makanan dan perlindungan yang memadai.

Satwa yang terdesak dari habitatnya juga dapat bergerak menuju kawasan yang berdekatan dengan permukiman atau aktivitas manusia. Dari sinilah potensi konflik antara manusia dan orangutan dapat meningkat, termasuk risiko satwa ditangkap maupun menjadi sasaran perburuan.

Dampak kebakaran terhadap orangutan, menurut Annisa, tidak hanya terlihat dari hilangnya habitat dan sumber makanan. Paparan asap serta perubahan lingkungan juga dapat memberikan tekanan terhadap kondisi psikologis satwa.

Baca Juga: Orangutan yang Terjebak di Tengah Lahan Terbakar di Sampit Ternyata Memeluk Anaknya

“Jadi stres dan respons inflamasi tubuh orang utan terhadap paparan polutan dan asap kebakaran, menyaksikan habitat hilang. Orang utan itu sharing 97 persen genetikanya sama dengan manusia. Mereka juga punya psikologis tertentu,” jelasnya.

Persoalan menjadi semakin kompleks karena sejumlah kawasan yang menjadi habitat orangutan beririsan dengan wilayah yang dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi, mulai dari perkebunan kelapa sawit, pertambangan hingga industri kehutanan.

Geopix meminta aktivitas usaha di kawasan tersebut tidak semakin memperbesar tekanan terhadap habitat orangutan. Pemerintah dan perusahaan dinilai memiliki peran penting dalam memastikan kawasan yang menjadi ruang hidup satwa dilindungi tetap terjaga.

Baca Juga: Orangutan Kabur dari Hutan yang Sudah Terbakar, Terekam Masuk Lahan Warga 

Di sisi lain, penindakan terhadap pihak yang menyebabkan kebakaran juga dinilai perlu diperkuat. Geopix mendorong aparat penegak hukum memberikan tindakan tegas apabila ditemukan unsur pelanggaran, baik berupa kesengajaan maupun kelalaian.

Annisa menilai penegakan hukum menjadi bagian penting untuk memutus pola kebakaran yang terus berulang dari waktu ke waktu.

“Itu salah satu penyebab dari betapa kompleksnya Indonesia ini ya,” pungkasnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
Senior Wildlife Campaigner Geopix Annisa Rahmawati Geopix kelapa sawit karhutla orangutan