SAMPIT – Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sempat mengepung kawasan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 01 di kawasan Wengga Metropolitan (WMP), Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Kondisi tersebut membuat para siswa jenjang SMP dan SMA yang tinggal di gedung permanen sekolah untuk sementara diliburkan dan diperbolehkan pulang ke keluarga masing-masing.
Wakil Bupati Kotim Irawati mengatakan, kebijakan tersebut diambil ketika kondisi asap semakin pekat demi menjaga keselamatan dan kesehatan para siswa.
Mereka yang masih memiliki keluarga dipulangkan, sementara siswa yang tidak memiliki keluarga di Kotim untuk sementara tetap dikumpulkan di lokasi asrama SRT 55 di kawasan Islamic Center, Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 3.
“Jadi yang saat ini ada di sini itu karena kemarin tempat mereka terkepung asap. Sehingga anak-anak diliburkan. Jadi yang ada keluarga dia pulang, yang tidak ada keluarga dia kumpul di sini,” katanya usai meninjau lokasi sekolah rintisan, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga: Prabowo Beberkan Gaji PPPK Guru dan Tenaga Kependidikan Sekolah Rakyat Tahun 2027
Menurutnya, siswa yang dipulangkan ke keluarga sudah berlangsung beberapa hari lalu, tepat ketika kondisi asap cukup pekat.
“Ada mungkin kurang lebih empat hari, lima hari lah, yang kemarin pas asap-asap pekat itu. Nah, itu dipulangkan,” ujarnya.
Sementara itu, sekitar empat siswa yang tidak memiliki keluarga untuk dituju tetap dikumpulkan di asrama kawasan Islamic Center.
“Yang tidak dijemput keluarga dia kumpul di sini hari ini,” katanya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Kotim Nikkon Bhastari membenarkan bahwa kondisi lingkungan SRT 01 di WMP sempat tidak kondusif akibat kabut asap.
Karena itu, pihak sekolah mengambil langkah tanggap darurat dengan memisahkan penanganan siswa berdasarkan lokasi tempat tinggal dan kondisi lingkungan keluarga masing-masing.
Menurut Nikkon, gejala asap mulai terlihat pada Kamis. Saat itu kondisi masih dapat ditangani dengan bantuan petugas pemadam kebakaran. Namun, kondisi berubah drastis pada Sabtu ketika asap semakin pekat dan menimbulkan rasa perih.
“Gejala asap terlihat di hari Kamis, tapi masih bisa teratasi dengan bantuan pemadam kebakaran. Ternyata di hari Sabtu sangat parah dan perih,” jelasnya kepada Kaltengpos.jawapos.com.
Melihat kondisi tersebut, sebagian siswa kemudian dievakuasi ke lokasi rintisan Sekolah Rakyat. Sementara siswa yang rumahnya dinilai aman, dekat dengan fasilitas kesehatan, serta memiliki keluarga yang dapat menjemput diperbolehkan pulang.
“Jadi langsung diungsikan sebagian ke rintisan. Jika kondisi rumahnya aman dan dekat tempat kesehatan, dipersilakan untuk dijemput orang tua,” katanya.
Nikkon menegaskan, keputusan tersebut bukan berarti seluruh siswa dilepas tanpa pengawasan. Pihak sekolah tetap melakukan pemantauan terhadap siswa yang berada di rumah melalui komunikasi dengan orang tua.
Hal tersebut juga dituangkan dalam surat resmi Sekolah Rakyat Nomor 400.3.9/534/SRT55KOTIM/2026 tentang Informasi Tanggap Darurat Bencana Sekolah Rakyat Kabupaten Kotawaringin Timur.
Dalam surat tersebut disebutkan, murid yang berada di gedung permanen SRT 01 dapat dijemput orang tua, wali murid atau sanak keluarga dengan sejumlah persyaratan. Di antaranya kondisi rumah aman dari kabut asap, fasilitas kesehatan mudah dijangkau, serta penjemputan dilakukan keluarga atau sanak keluarga.
Selama berada di rumah, wali asrama, wali asuh dan guru tetap memantau siswa, termasuk terkait keberlangsungan pembelajaran melalui telepon.
Berdasarkan surat tersebut, siswa yang dipulangkan dijadwalkan kembali ke Sekolah Rakyat pada Kamis, (10/9/2026) pukul 11.00 WIB. Namun, jadwal tersebut masih dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi di lapangan dan rekomendasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Nikkon mengatakan, apabila hingga Rabu malam kondisi belum memungkinkan untuk kembali ke sekolah, masa belajar dan berkegiatan dari rumah akan diperpanjang.
“Surat saya sampai Kamis. Jika di Rabu malam masih tidak memungkinkan, akan diperpanjang belajar dan berkegiatan di rumah sampai hari Minggu,” ujarnya.
Sementara siswa yang belum atau tidak dijemput keluarga tetap tinggal di asrama pada lokasi yang dinilai aman. Mereka berada dalam pengawasan wali asrama, wali asuh dan warga Sekolah Rakyat.
Pihak sekolah juga memastikan kebutuhan dasar siswa yang tetap berada di asrama tetap terpenuhi selama kondisi darurat berlangsung. (*)
Editor : Agus Pramono