SAMPIT – Relawan Karhutla Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dilaporkan meninggal dunia pada Selasa (15/9/2026).
Ia diketahui ikut memadamkan lahan yang terbakar di Desa Hanjalipan sehari sebelumnya, pada Senin (14/9/2026) bersama warga.
Informasi itu beredar di media sosial. Dalam unggahan seorang netizen, ia mengembuskan napas terakhir pukul 04.00 WIB.
Baca Juga: Dua Relawan Karhutla di Kalteng Meninggal Dunia, Gugur Setelah Berjuang Padamkan Api
Kabar itu dibenarkan oleh Kepala Desa Hanjalipan, Sapransyah. Ia menyebut, almarhum merupakan seorang warga bernama Anto. Dirinya sempat mengalami sesak napas usai menangani kebakaran lahan.
“Betul, Pak. Kemarin (almarhum) ikut memadamkan api. Lalu sesak napas. Beliau warga biasa atas nama Anto,” ujarnya saat dikonfirmasi Kaltengpos.jawapos.com.
Usai mengalami sesak napas pascapenanganan, almarhum pulang ke rumah. Ia lantas meninggal dunia pada Selasa dini hari.
“Usai sesak napas disuruh pulang ke rumah. Tadi malam meninggal dunia,” katanya.
Sementara itu, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Hanjalipan, Reky, mengatakan kondisi Anto (45) mulai dikeluhkan setelah pulang dari lokasi kebakaran sekitar pukul 23.00 WIB.
Saat itu, almarhum mengaku kepada istrinya mengalami sakit di bagian dada disertai sesak napas.
“Beliau setelah jam 11 malam pulang padamkan api di kebun sendiri sama masyarakat Hanjalipan. Pulang, beliau mengeluhkan sakit dada dan sesak. Itu jam 11 malam cerita sama istri beliau, sesak napas,” katanya.
Baca Juga: Bocah 11 Tahun Sesak Napas Lalu Meninggal, Paparan Kabut Asap Memperparah Penyakit Bawaannya
Setelah itu, Anto berusaha tidur. Namun sekitar pukul 02.00 WIB, ia sempat bangun dan keluar rumah untuk melihat kondisi kebakaran. Saat itu api disebut masih terlihat, meski kondisinya tidak terlalu parah.
“Setelah itu beliau berusaha tidur, sekitar jam-jam 2 tuh bangun lagi lihat api lagi, kan keluar dari rumah. Kondisi api tuh memang agak kurang, beliau tidur lagi,” ujarnya.
Setelah kembali tidur, istrinya kemudian berusaha membangunkan Anto. Namun, panggilan tersebut tidak mendapat respons hingga akhirnya diketahui almarhum telah meninggal dunia.
“Nah, di situ, istrinya berusaha bangunin. Dipanggil-panggil enggak ada jawab. Tahu-tahunya sudah meninggal. Diperiksa bidan kampung,” katanya.
Reky menambahkan, Anto belum sempat mendapatkan pemeriksaan medis sebelum meninggal dunia. Tim medis desa baru datang ketika kondisi korban sudah meninggal dunia
“Kalau diagnosis dari tim kesehatan desa, tidak sempat didiagnosis. Beliau tidak sempat diperiksa. Tim medis datang beliau sudah meninggal,” jelasnya.
Sementara berdasarkan keterangan keluarga, Anto disebut memiliki riwayat asma yang berasal dari orang tuanya.
“Tapi kalau untuk keterangan keluarga, ada riwayat asma dari orang tua almarhum,” ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti meninggalnya Anto belum dapat dipastikan secara medis.(*)
Editor : Agus Pramono