Jerit Warga Sei Ijum Kotim saat Kemarau: Air Berubah Payau, Minum dan Masak Harus Beli Air Galon

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 14:40 WIB
Warga Sei Ijum, Kabupaten Kotim mengalami krisis air.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)
Warga Sei Ijum, Kabupaten Kotim mengalami krisis air.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT – Kemarau berkepanjangan mulai menyulitkan warga Desa Sei Ijum, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). 

Air PDAM yang masih mengalir setiap hari kini berubah menjadi payau, sehingga tidak lagi bisa digunakan untuk kebutuhan konsumsi.

Kondisi tersebut sudah dirasakan warga sekitar satu bulan terakhir. Meski distribusi air masih berjalan lancar, perubahan rasa membuat warga harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak.

Baca Juga: Air Sungai Mentaya Tak Lagi Bisa Dipakai, 3 Desa di Pulau Hanaut Krisis Air Bersih

“Kalau kondisi airnya, kalau air sungai asin. Kalau air PDAMnya ini sudah berubah. Rasanya payau. Sekitar sebulan lah sudah yang payau itu,” kata warga setempat, Tayibah, Kamis (17/9/2026). 

Guna memenuhi kebutuhan meminum dan memasak, warga terpaksa membeli air galon untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tayibah mengatakan, untuk kebutuhan memasak, dirinya biasanya membeli sekitar dua hingga tiga galon air. Jika anggota keluarga berkumpul, persediaan tersebut bahkan bisa habis dalam waktu sekitar tiga hari.

“Kadang tiga hari bisa, kalau untuk kumpul anak yang datang kayak gitu,” tuturnya.

Harga air yang dibeli warga juga berbeda. Jika membeli di kawasan Samuda, harganya sekitar Rp3.000 per galon, sedangkan di sekitar tempat tinggalnya bisa mencapai Rp5.000.

Baca Juga: Gubernur Agustiar Sabran Turun Langsung Membantu Warga yang Butuh Air Bersih

“Harganya Rp3.000 kalau di Samuda. Kalau di sini kadang Rp5.000,” ungkapnya.

Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih menjadi sangat berarti bagi warga. Tayibah mengatakan penyaluran air yang diterima saat ini merupakan bantuan pertama selama kondisi air payau berlangsung.

“Mudah-mudahan kalau nanti banyak, terima kasih sudah ditolong. Untuk membantu masyarakat yang di sini,” katanya.

Menurutnya, satu drum air bersih yang digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga seperti memasak dan mencuci dapat habis dalam waktu sekitar satu minggu, tergantung pemakaian. Namun, bantuan air itu hanya akan digunakan untuk memasak dan minum 

“Kalau satu drum untuk masak, mencuci, apa segala itu, sekitar satu minggu habis satu drum,” ujarnya.

Baca Juga: Kecamatan Pulau Hanaut Waspada Kekeringan, Air Tanah Dinilai Tak Layak Konsumsi

Sementara untuk kebutuhan air yang dibeli, satu galon rata-rata hanya cukup sekitar satu hari jika digunakan untuk memasak dan kebutuhan lainnya.

Meski demikian, Tayibah mengatakan warga di wilayahnya masih dapat menggunakan air payau untuk kebutuhan tertentu. Persoalan paling utama adalah air tersebut sudah tidak bisa dikonsumsi.

“Kalau di daerah sini masih bisa airnya. Payau-payau kan masih bisa digunakan mandi dan bersih-bersih. Cuma kalau untuk diminum kan enggak bisa,” pungkasnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
desa sei ijum air bersih air pdam