Aktivis Lingkungan Sampit Ditawari untuk Menjual Trenggiling Terbakar Usai Evakuasi

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 12:16 WIB
Aktivis lingkungan Sampit, Harie bersama tim saat evakuasi trenggiling.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)
Aktivis lingkungan Sampit, Harie bersama tim saat evakuasi trenggiling.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT – Penemuan bangkai trenggiling di kawasan terdampak kebakaran hutan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menimbulkan kekhawatiran baru.

Selain kehilangan satwa dilindungi, bangkai trenggiling juga dikhawatirkan dimanfaatkan untuk kepentingan perdagangan ilegal. Pasalnya, meski sudah hangus terbakar, sisik trenggiling rupanya masih memiliki nilai.

Aktivis lingkungan Sampit, Harie, mengatakan bagian tubuh trenggiling masih berpotensi dimanfaatkan meskipun satwa tersebut telah mati. Karena itu, bangkai trenggiling yang ditemukan segera diamankan.

Baca Juga: Dua Bangkai Trenggiling Ditemukan di Tengah Karhutla Terantang Hilir Kotim

“Walaupun sudah mati, bagian tubuh trenggiling masih mungkin dimanfaatkan, terutama kulitnya. Biasanya kulit tersebut dapat diawetkan melalui proses tertentu,” katanya, Senin (21/9/2026).

Pengalaman itu pernah dialami Harie bersama rekannya saat melakukan evakuasi dua bangkai trenggiling di kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Terantang Hilir, Kecamatan Seranau, Minggu (20/9/2026) kemarin.

Saat membawa bangkai itu ke Kota Sampit, sejumlah orang sempat menanyakan bangkai yang ia bawa. Bahkan, orang tersebut secara terang-terangan menawarkan harga untuk membelinya.

“Pas pulang itu ada aja orang bertanya. ‘Trenggiling kah itu? Saya beli, berapa harganya?’. Saya jawab saja, ‘Langkahi mayatku dulu’,” katanya menceritakan kejadian itu.

Baca Juga: Seekor Tenggiling Mati Mengenaskan Akibat Amukan Karhutla Sampit

Ia menjelaskan, penemuan bangkai trenggiling tersebut terjadi saat aktivis melakukan penyisiran di kawasan yang sebelumnya dilanda Karhutla. Dua trenggiling ditemukan di lokasi berbeda, dengan kondisi tubuh hampir seluruhnya hangus terbakar.

“Kami menemukan dua ekor trenggiling di lokasi yang berbeda. Satu berada di lokasi yang sudah terbakar, sedangkan satunya lagi tidak jauh dari tempat tersebut,” ujarnya.

Harie mengatakan, pihaknya khawatir bangkai trenggiling disalahgunakan oleh pihak tertentu. Terlebih, menurutnya, kasus pemanfaatan dan perdagangan trenggiling sebelumnya pernah terjadi di wilayah lain di Kalimantan.

“Karena itu, kami bergerak cepat untuk mencari dan mengamankan bangkai trenggiling ini. Kami khawatir satwa tersebut disalahgunakan atau dimanfaatkan untuk kepentingan perdagangan,” katanya.

Bangkai satwa yang ditemukan biasanya dikuburkan di lokasi atau dibawa ke basecamp. Untuk satwa yang masuk kategori dilindungi, aktivis berkoordinasi dengan BKSDA Pos Sampit.

Baca Juga: Karhutla Ancam Habitat Satwa, Asap Bisa Picu Konflik Orangutan dengan Manusia

“Penguburan dilakukan sebagai bentuk simpati dan penghormatan terakhir kepada hewan tersebut. Kami ingin memastikan satwa yang menjadi korban kebakaran tetap ditangani dengan baik,” tuturnya.

Ia berharap pengawasan terhadap satwa dilindungi semakin diperkuat, terutama di kawasan yang terdampak Karhutla.

“Trenggiling merupakan satwa yang populasinya sudah sangat terancam. Kami khawatir generasi mendatang semakin sulit melihat satwa ini di alam,” pungkasnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
bksda pos sampit perdagangan ilegal karhutla trenggiling