Bekantan Ditemukan Mati di Kawasan Wisata Ujung Pandaran, BKSDA Telusuri Informasi Video

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 15:30 WIB
Bekantan mati di permukiman.(Screenshoot)
Bekantan mati di permukiman.(Screenshoot)

SAMPIT – Video seekor bekantan ditemukan mati di kawasan tempat wisata milik Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) di wilayah Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit beredar di media sosial. 

Informasi tersebut ditindaklanjuti petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit setelah menerima laporan dan video, Senin (21/9/2026).

Baca Juga: Karhutla Ancam Habitat Satwa, Asap Bisa Picu Konflik Orangutan dengan Manusia

Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah mengatakan, pihaknya menerima laporan dan video kematian bekantan yang beredar di media sosial. Petugas kemudian menelusuri informasi tersebut dengan menghubungi pembuat video.

Berdasarkan keterangan Indra, petugas penjaga tempat wisata dari Dinas Pariwisata Kotim yang merekam video tersebut, bangkai bekantan ditemukan dan direkam pada Minggu (20/9/2026) sore.

“Setelah mengambil video, bangkai bekantan selanjutnya dikuburkan. Kondisi bangkai sudah berbelatung dan berbau busuk. Tidak terlihat luka jerat dan bekas benda tajam,” kata Muriansyah, Selasa (22/9/2026). 

BKSDA Pos Sampit kemudian membandingkan video bekantan yang mati tersebut dengan rekaman kemunculan bekantan di kawasan itu beberapa pekan sebelumnya. 

Baca Juga: Karhutla Kotim Makin Mengkhawatirkan, BKSDA Sampit: 5 Orangutan dan 1 Tenggiling Diselamatkan

Dari hasil pengamatan terhadap rekaman, bekantan yang ditemukan mati disebut berbeda dengan individu yang sebelumnya terlihat.

“Bekantan yang mati berbeda dengan bekantan sebelumnya. Perbedaannya dari ukuran tubuh dan hidung. Pada video sebelumnya, badannya lebih besar dan hidungnya lebih panjang,” ujarnya.

Muriansyah menegaskan, dari penelusuran awal tersebut belum dapat disimpulkan penyebab kematian bekantan. BKSDA hanya mencatat kondisi bangkai berdasarkan keterangan dan dokumentasi yang diterima petugas.

Selain menelusuri informasi kematian satwa, BKSDA juga memberikan pengarahan kepada pengelola maupun petugas kawasan wisata agar tidak memberikan makanan kepada satwa liar yang datang.

Menurut Muriansyah, pemberian makanan kepada satwa liar berpotensi mengubah perilaku alami satwa tersebut.

Baca Juga: Aktivis Lingkungan Sampit Ditawari untuk Menjual Trenggiling Terbakar Usai Evakuasi

“Satwa liar yang datang ke tempat wisata tidak diberi makanan karena akan mengubah perilaku alami satwa liar,” jelasnya.

Ia juga memastikan habitat bekantan dan lutung abu-abu di wilayah Kecamatan Teluk Sampit tidak terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Habitat bekantan dan lutung abu-abu yang ada di wilayah Kecamatan Teluk Sampit tidak terbakar. Vegetasi dominan habitat bekantan dan lutung abu-abu berupa mangrove yang tanahnya selalu basah atau berlumpur,” pungkasnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
bksda pos sampit Desa Ujung Pandaran Dinas Pariwisata Kotim bekantan karhutla