ISPU Kotim Masih Berfluktuasi, Dalam Hitungan Jam Bisa Naik Turun

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 17:30 WIB
Kondisi kabut asap di Kotim.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)
Kondisi kabut asap di Kotim.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT – Kondisi kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih berubah-ubah. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dapat mengalami kenaikan maupun penurunan hanya dalam hitungan jam, mengikuti pergerakan dan konsentrasi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Koordinator Lapangan Satgas Penanganan Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan perubahan tersebut membuat kondisi udara di Sampit belum bisa disebut stabil.

Baca Juga: Status Tanggap Darurat Karhutla Kotim Kembali Diperpanjang hingga 15 Oktober 2026

Menurut dia, naik turunnya angka ISPU dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk keberadaan asap dari kebakaran di wilayah sekitar serta asap yang terbawa angin dari daerah lain.

“Angkanya memang bergerak terus. Dalam waktu beberapa jam kondisinya bisa berubah, sehingga ISPU yang terpantau pagi belum tentu sama dengan beberapa jam berikutnya,” katanta, Selasa (29/9/2026).

Ia menjelaskan, asap yang menyelimuti Sampit tidak seluruhnya berasal dari titik kebakaran yang berada di dalam kawasan kota. Sejumlah wilayah seperti Seranau, Pulau Hanaut dan Teluk Sampit juga dapat menjadi sumber asap yang kemudian terbawa menuju perkotaan.

Pergerakan asap tersebut sangat bergantung pada kondisi angin. Ketika angin cukup kuat, asap lebih mudah berpindah. Sebaliknya, saat angin melemah, asap cenderung bertahan dan menumpuk di kawasan kota.

“Kalau asap masuk ke kota kemudian kondisi anginnya lemah, asap tidak cepat berpindah. Akhirnya konsentrasinya bertambah dan nilai ISPU bisa kembali meningkat,” jelasnya.

Baca Juga: Pemilik Lahan Rawan Karhutla di Kotim Bakal Diwajibkan Bangun Sumur Bor

Fluktuasi itu juga terlihat dari kondisi jarak pandang di sejumlah lokasi. Ada kawasan yang jarak pandangnya masih berada pada kisaran 1–2 kilometer, sementara di titik lainnya hanya sekitar 400–600 meter.

Rihel menyebut kondisi ISPU saat ini telah berada di sekitar angka 200. Namun, angka tersebut masih jauh dari kondisi udara yang dianggap ideal karena kualitas udara yang baik berada pada ISPU di bawah 50.

“Angka 200 ini sudah turun dibanding kondisi terburuk yang pernah lebih dari 1.000. Tetapi kalau ingin dikatakan aman atau ideal, acuannya tetap di bawah 50,” ujarnya.

Dengan kondisi asap yang masih bergerak dan sumber karhutla yang tersebar, perubahan ISPU diperkirakan tetap dapat terjadi sewaktu-waktu. Karena itu, kondisi udara perlu terus dipantau, terutama ketika kabut asap kembali terlihat menebal di kawasan permukiman. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
ISPU kabut asap asap karhutla