Kabut Asap Kian Pekat, Warga Kotim Terpaksa Beraktivitas Normal

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 13:10 WIB
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Sampit.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Sampit.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT – Kabut asap imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) nampaknya kian parah. Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) misalnya. Kondisi asap yang sudah berbulan-bulan menjadi keluhan warga.

Namun, kondisi itu tak kunjung menaikkan status karhutla di Kalteng menjadi bencana nasional. Pemerintah mengklaim, aktivitas warga masih berjalan normal. Padahal, mereka terpaksa hidup normal untuk memenuhi kebutuhan.

Baca Juga: Tolong Pak Prabowo!!! Kabut Asap di Kota Sampit Kian Parah 

Ketua DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Rimbun menilai dampak karhutla tidak bisa hanya dilihat dari masih berlangsungnya aktivitas masyarakat. Menurutnya, asap yang terus menyelimuti wilayah tersebut berpotensi mengganggu kesehatan warga, termasuk dalam jangka panjang.

“Kalau berbicara normal, ya tidak. Aktivitas masyarakat terganggu karena kondisi udara dan saat menghirup udara,” ujarnya, Senin (12/10/2026).

Ia mengatakan, masyarakat pada dasarnya tidak memiliki banyak pilihan selain tetap beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, kondisi yang terlihat berjalan seperti biasa tidak serta-merta dapat dijadikan gambaran bahwa dampak karhutla tidak serius.

Terkait belum ditetapkannya karhutla di Kalteng sebagai bencana nasional, Rimbun menyebut penetapan status merupakan kewenangan pemerintah sesuai hasil penilaian dan pertimbangan yang berlaku. Namun, ia mengakui kebakaran yang disertai asap telah menimbulkan gangguan bagi masyarakat.

“Kalau berbicara asap dan api ini, kita anggap sudah bencana nasional. Namun, untuk kebijakannya, kita serahkan kepada pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat,” ujarnya.

Baca Juga: Berbulan-bulan Tak Diguyur Hujan, Anggota DPRD Kotim Bantu Warga Sampit yang Kesulitan Air Bersih

Rimbun menilai upaya penanganan karhutla yang dilakukan pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat telah berjalan maksimal sesuai kemampuan masing-masing. Meski demikian, penanganan di lapangan masih menghadapi kendala, terutama keterbatasan sarana dan prasarana serta akses menuju lokasi kebakaran.

Kondisi geografis Kotim yang didominasi lahan gambut turut menyulitkan pemadaman. Jarak lokasi kebakaran yang jauh dan infrastruktur yang belum memadai menjadi tantangan ketika api terus muncul di sejumlah titik.

Ia menyebut pemerintah daerah telah melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah kabupaten hingga pemerintah desa dan masyarakat, untuk membantu penanganan karhutla.

Namun, kebakaran yang terus berlangsung membutuhkan penanganan serius agar dampaknya terhadap kesehatan dan kehidupan warga tidak semakin meluas.

Baca Juga: Gubernur Agustiar Sabran Menilai Karhutla di Kalteng Belum Layak Berstatus Bencana Nasional

“Mereka suka tidak suka tetap beraktivitas. Tapi nanti dampaknya di kesehatan. Kalau berbicara normal ya tidak normal. Karena jarak pandang terganggu, udara tidak sehat,” imbuhnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
bencana nasional kabut asap penanganan karhutla karhutla