Menhut Raja Juli Antoni Tinjau Karhutla di Tanjung Puting, Besok Dijadwalkan ke Kotim 

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 13:40 WIB
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ke Pangkalan Bun.(Instagram)
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ke Pangkalan Bun.(Instagram)

SAMPIT – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni bertolak ke Pangkalan Bun untuk meninjau langsung karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).

Dia juga dijadwalkan akan menyambangi Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Selasa (13/10/2026) besok. Kedatangannya untuk meninjau langsung kondisi Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). 

Baca Juga: Tolong Pak Prabowo!!! Kabut Asap di Kota Sampit Kian Parah 

Wakil Bupati Kotim Irawati mengatakan, pihaknya menerima informasi mengenai rencana kunjungan tersebut dari Daerah Operasi (Daops) Manggala Agni Pangkalan Bun. Jika kunjungan terlaksana, ia berencana mendampingi Wamenhut ke Kecamatan Seranau.

“Kalau memang benar beliau turun ke lapangan, rencananya saya akan membawa beliau ke Seranau agar bisa melihat langsung bagaimana penanganan karhutla di sana,” katanya, Senin (12/10/2026).

Menurutnya, penanganan kebakaran di wilayah Seranau dan Pulau Hanaut tidak bisa mengandalkan jalur darat. Petugas harus menyeberang menggunakan kapal, melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor, bahkan berjalan kaki menuju titik tertentu sambil membawa peralatan pemadaman.

“Kalau di kota masih enak memadamkannya karena masih bisa dijangkau transportasi darat. Kalau di sana, tidak bisa. Harus menyeberang kapal, naik motor, bahkan ada yang harus berjalan kaki,” ungkapnya.

“Teman-teman di lapangan luar biasa. Mereka memikul alkon, embung, dan selang. Penanganan di sana memang sangat berat,” lanjutnya. 

Baca Juga: Gubernur Agustiar Sabran Menilai Karhutla di Kalteng Belum Layak Berstatus Bencana Nasional

Irawati menilai, kondisi itu membuat penanganan karhutla di kedua wilayah tersebut  membutuhkan dukungan tambahan. Termasuk kemungkinan bantuan melalui jalur udara. 

Karena itu, kunjungan Menhut diharapkan dapat memperlihatkan langsung kebutuhan di lapangan dan alternatif penanganan yang bisa dilakukan.

Ia menjelaskan, kondisi lahan gambut di kawasan tersebut juga menyulitkan upaya pemadaman. Kedalaman gambut di sejumlah lokasi disebut dapat mencapai belasan meter, sehingga api berpotensi sulit ditangani dan membutuhkan upaya ekstra.

Dampak karhutla, lanjutnya, tidak hanya menyangkut kesehatan masyarakat, tetapi juga pendidikan dan perekonomian. Lahan pertanian milik warga yang terbakar dapat menghilangkan sumber penghasilan keluarga dan berisiko menambah jumlah masyarakat miskin jika kerugian tersebut tidak tertangani. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) wakil bupati kotim irawati raja juli antoni lahan pertanian karhutla