PROGRAM makan bergizi gratis (MBG) yang saat ini tengah dijalankan oleh pemerintah, ternyata sudah lebih dulu dilakukan di Sekolah Dasar Muhammadiyah Terpadu, SDMT Ponorogo.
Program MBG di sekolah ini ternyata sudah dimulai sejak 20 tahun silam, jauh sebelum ada program makan bergizi gratis (MBG).
Di dapur SDMT Ponorogo, setiap hari menyiapkan 908 porsi makan siang setiap harinya.
Satu porsi dihargai Rp8 ribu dengan jaminan pola pengolahan dan nilai gizi dalam setiap varian menu yang berganti setiap harinya.
Awalnya, program tersebut memberdayakan warga sekitar SDMT di Jalan Jagadan, Kelurahan Mangunsuman, Siman itu.
Tiga tahun berselang dapur di-handle pihak sekolah, seiring jumlah siswa semakin bertambah.
Pertimbangan lain, meningkatkan pengawasan gizi dan kebersihan pengolahan makanan.
‘’Agar lebih terkontrol, mulai higienitas, bahan sampai menu hariannya,’’ kata Kepala SDMT Ponorogo Jainal Abidin.
Berjalan dua dekade, Jainal mengklaim pelayanan dapur tak pernah mengalami keterlambatan dalam mendistribusikan makan siang.
Ratusan porsi tersebut dikerjakan lima juru masak dapur sekolah.
Mulai aktivitas sejak subuh, hidangan siap disajikan pukul 12.30 tiap harinya.
‘’Anak-anak mulai makan siangnya setelah salat dzuhur,’’ jelasnya.
Melalui program makan siang bergizi tersebut, lanjut Jainal, menjadi media belajar kemandirian untuk peserta didik.
Setiap siswa mulai kelas 1 SD secara berkelompok mengambil makanan untuk kelas mereka.
Usai makan bersama, siswa mencuci piring masing-masing dan mengembalikan ke tempat makan semula.
‘’Anak yang tidak pernah cuci piring akhirnya belajar, yang sebelumnya tidak mau makan sayuran sekarang suka. Orang tua senang dengan kemandirian yang kami biasakan dari hal kecil ini,’’ terangnya.
Penanaman karakter mandiri tersebut mendapat tanggapan positif wali murid.
Hal itu yang membuat orang tua keberatan dengan adanya makan bergizi gratis (MBG) di SDMT.
Mereka khawatir anak tidak lagi belajar kemandirian karena semua sajian disiapkan langsung oleh petugas.
Kekhawatiran lain soal higienitas makanan, seiring isu keracunan di berbagai daerah.
‘’Sejak kami stop, MBG belum kami mulai lagi. Kalau ada tawaran, nanti tetap akan kami musyawarahkan dengan orang tua,’’ ungkapnya. (jpg/abw)
Editor : Ayu Oktaviana