Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Gus Miftah Buka Puasa dan Tausiyah di Colosseum Jakarta, Dakwah Tanpa Menghakimi di Ruang Hiburan Malam

Agus Pramono • Rabu, 25 Februari 2026 | 11:54 WIB

Gus Miftah buka puasa bareng pekerja Colosseum Jakarta. DOK PRIBADI
Gus Miftah buka puasa bareng pekerja Colosseum Jakarta. DOK PRIBADI

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Pendakwah kondang Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah kembali menunjukkan gaya dakwahnya yang tak biasa.

Pada Selasa (24/2/2026), ia menggelar tausiyah sekaligus buka puasa bersama para pekerja 1001 Hotel dan Colosseum Jakarta, salah satu klub malam yang pernah masuk daftar Top 100 Clubs dunia dan dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia.

Bagi sebagian kalangan, lokasi tersebut mungkin terasa tidak lazim untuk kegiatan keagamaan. Namun bagi Gus Miftah, justru di ruang-ruang seperti itulah dakwah harus hadir—menjangkau mereka yang kerap berada di pinggiran perhatian.

Kembali ke “DNA” Dakwah

Kehadiran Gus Miftah di klub malam bukanlah hal baru. Sejak awal, ia dikenal dengan pendekatan dakwah yang menyasar kelompok-kelompok yang sering kali dipandang sebelah mata. Ia memilih mendekat, bukan menjauh; merangkul, bukan menghakimi.

Momentum buka puasa bersama ini pun menjadi ruang refleksi bagi para pekerja hiburan malam untuk tetap merasakan hangatnya kebersamaan Ramadan, tanpa stigma.

Pesan: Allah Memanggil “Hamba-Ku”

Dalam tausiahnya, Gus Miftah kembali menegaskan pesan yang menjadi ciri khasnya: dakwah yang humanis dan penuh kasih.

“Allah tidak memanggil manusia dengan sebutan ‘wahai pendosa’, melainkan ‘wahai hamba-Ku’,” ujarnya di hadapan para pekerja.

Pesan tersebut disampaikan dengan nada teduh, mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki peluang yang sama untuk mendekat kepada Tuhan, tanpa memandang latar belakang atau profesi.

Dalam salah satu kisah yang ia ulang, ia menceritakan pengalamannya mendatangi lokalisasi dan memberi uang kepada para pekerja agar berhenti bekerja selama satu malam.

Menurutnya, berhenti dari maksiat walau hanya sesaat adalah sebuah prestasi.

“Kalau berhenti satu malam saja itu berhasil, kenapa kita tidak menghargai proses?” ujarnya.

Kembali ke “Habitat” Dakwah

Publik mengenal Gus Miftah sebagai dai yang kerap berdakwah di tempat-tempat yang tak biasa: klub malam, lokalisasi, hingga komunitas marjinal.

Gus Miftah buka puasa bareng pekerja Colosseum Jakarta. DOK PRIBADI
Gus Miftah buka puasa bareng pekerja Colosseum Jakarta. DOK PRIBADI

Ia pernah menyebut bahwa orang yang dianggap “ahli maksiat” justru sering memandang orang saleh dengan penuh harap, sementara orang yang merasa saleh kadang melihat mereka dengan stigma.

Karena itu, menurutnya, dakwah seharusnya hadir dengan empati, bukan penghakiman.

Momentum buka puasa bersama pekerja 1001 Hotel dan Colosseum ini seolah menandai kembalinya Gus Miftah ke pola dakwah yang dulu membesarkan namanya mendatangi mereka yang jarang disentuh.

Soal Ujian dan Kritik

Dalam sesi tanya jawab, Gus Miftah juga menyinggung masa-masa ketika dirinya dihujani kritik.

Ia mengutip hadis bahwa jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan mengujinya.

“Manusia punya kendala, Allah punya kendali,” katanya.

Menurutnya, ujian justru membuatnya lebih banyak membantu orang lain. Ia mengaku, setelah melalui masa sulit, jumlah orang yang bisa ia berangkatkan umrah justru bertambah.

Dakwah Tanpa Batas Tempat

Kehadiran Gus Miftah di klub malam selalu memantik pro-kontra. Ada yang menilai langkah tersebut progresif, ada pula yang menganggapnya kontroversial.

Namun bagi Gus Miftah, dakwah tidak mengenal batas tempat.

“Kalau yang di masjid sudah rajin, lalu siapa yang datang ke tempat-tempat seperti ini?” demikian pesan yang kerap ia sampaikan.

Buka puasa bersama di Colosseum Jakarta kali ini menjadi simbol bahwa ruang hiburan malam pun bisa menjadi ruang refleksi spiritual, setidaknya untuk satu malam.(ram)

Editor : Ayu Oktaviana
#pekerja hiburan malam #Colosseum Jakarta #buka puasa bersama #Miftah Maulana #1001 Hotel dan Colosseum #klub malam #gus miftah #ramadan #lokalisasi #humanis #kontroversial #marjinal #umrah #dakwah #hiburan malam