KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Polemik video viral berjoget di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) berujung pada penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban, Batujajar, Jawa Barat.
Kebijakan ini diambil oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bentuk evaluasi terhadap kepatuhan standar operasional di lapangan.
Penghentian operasional tersebut tak lepas dari viralnya aksi mitra SPPG, Hendrik Irawan, yang menuai sorotan publik usai mengunggah konten berjoget di area dapur. Dalam klarifikasinya melalui media sosial, Hendrik mengakui kesalahan dan menyampaikan permohonan maaf.
“Saya memohon maaf, ini murni kesalahan saya karena tidak mematuhi protokol,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Ia juga mengaku tidak menyangka video tersebut akan memicu reaksi besar dari masyarakat. Bahkan, ia menyebut telah diberhentikan oleh pihak BGN sebagai konsekuensi dari kejadian tersebut.
Di sisi lain, BGN mencatat hingga 25 Maret 2026 masih terdapat 764 SPPG di seluruh Indonesia yang dihentikan operasionalnya.
Jumlah ini merupakan bagian dari total 1.528 SPPG yang sempat diberhentikan sejak Januari 2025, dengan sebagian telah kembali beroperasi setelah memenuhi standar Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Kepala BGN, Nanik, menjelaskan bahwa penghentian dilakukan sebagai upaya memastikan seluruh layanan pemenuhan gizi berjalan sesuai standar kesehatan dan kebersihan.
Kasus di Pangauban menjadi perhatian karena tidak hanya menyangkut pelanggaran prosedur, tetapi juga berdampak langsung pada para pekerja.
Hendrik menyebut sekitar 150 relawan yang terlibat dalam operasional dapur kini terpaksa berhenti bekerja sementara.
“Dengan kondisi ini, sekitar 150 relawan tidak bisa bekerja saat program kembali berjalan setelah Lebaran,” ungkapnya.
Padahal, menurutnya, berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyambut kembali operasional program MBG pada 31 Maret 2026, termasuk pemesanan bahan makanan seperti susu dan penyusunan menu bagi penerima manfaat.
Hendrik juga menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat untuk merendahkan program pemerintah. Ia menyatakan tetap menghormati program MBG sebagai bagian dari upaya peningkatan gizi masyarakat.
“Saya tidak ada niat melecehkan program pemerintah ataupun masyarakat,” katanya.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya disiplin dalam menjalankan program strategis nasional, khususnya yang berkaitan dengan pelayanan publik dan kesehatan. Selain itu, peristiwa ini juga menunjukkan besarnya pengaruh media sosial terhadap keberlangsungan sebuah program di era digital.
BGN sendiri memastikan evaluasi akan terus dilakukan agar pelaksanaan program MBG tetap berjalan optimal, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap kualitas layanan yang diberikan.(*)
Editor : Ayu Oktaviana