KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Pernyataan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dalam sebuah ceramah di Universitas Gajah Mada (UGM) menuai respons serius. Sejumlah organisasi, termasuk Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI), resmi melaporkannya ke Polda Metro Jaya.
Laporan tersebut dilayangkan menyusul ceramah yang disampaikan JK di Masjid Universitas Gadjah Mada yang dinilai memicu polemik di ruang publik.
Baca Juga: Jokowi Merespons Santai Usai Jusuf Kalla Memintanya Menunjukkan Ijazah
Ketua Umum GAMKI, Sahat Martin, menilai pernyataan itu telah menimbulkan kegaduhan yang meluas.
“Kami melaporkan kepada Polda Metro Jaya sehingga pernyataan yang sudah menimbulkan kegaduhan di masyarakat dan di media sosial ini bisa lebih terarah untuk kemudian diselesaikan secara hukum,” ujarnya dalam keterangan tertulis, mengutip Tempo, Selasa (14/4/2026).
Selain GAMKI, laporan juga diajukan oleh organisasi lain, termasuk Pengurus Pusat Pemuda Katolik. Ketua umumnya, Stefanus Asat Gusma, menilai pernyataan JK tidak selaras dengan ajaran agama yang dianutnya. Menurutnya, ajaran Kristen dan Katolik tidak membenarkan kekerasan terhadap sesama.
“Harapan kami, sebagai tokoh bangsa, Bapak JK segera merespons ini dengan baik, paling tidak memberikan pernyataan terbuka, meminta maaf, dan mengklarifikasi semuanya,” katanya.
Baca Juga: Jusuf Kalla Resmi Laporkan Dugaan Hoaks Danai Roy Suryo Ijazah Jokowi ke Bareskrim Polri
Laporan tersebut telah teregister di kepolisian dengan beberapa nomor registrasi sejak Minggu malam (12/4/2026). Para pelapor berharap proses hukum dapat memberikan kejelasan atas polemik yang berkembang.
Polemik ini berawal dari ceramah JK yang menyinggung konflik bernuansa agama di sejumlah daerah, seperti Poso dan Ambon. Dalam ceramah itu, JK membahas bagaimana konflik dapat dipicu oleh pemahaman keliru terkait konsep syahid.
“Ada juga (konflik) karena agama, walaupun didahului dengan ketidakadilan. Kemudian akibatnya ke agama, kaya Poso, Ambon, DI/TII. Kenapa agama gampang menjadi jadikan alasan konflik, kaya di Poso, Ambon. Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang, mati atau mematikan, itu syahid. Semua pihak, Kristen juga berpikir begitu, kalau saya bunuh orang Islam saya syahid, kalau saya mati pun, saya syahid. Akhirnya susah berhenti kalau konfliknya orang membawanya ke agama,” kata JK.
Dalam bagian lain ceramahnya, JK juga menegaskan bahwa tidak ada ajaran agama yang membenarkan pembunuhan terhadap orang tak bersalah.
Baca Juga: Dituding Danai Isu Ijazah Jokowi Rp5 Miliar, Jusuf Kalla Laporkan Sejumlah Pihak ke Bareskrim
“Waktu di Ambon terbagi kota itu, ini Kristen, ini Islam. Kalau masuk (wilayah) Kristen, dipenggal orang. Kalau masuk daerah Islam, orang Kristen dipenggal. Ribuan hampir lima ribu orang meninggal hanya karena yang membunuh merasa syahid, hebat. Dibunuh pun orang tuanya tidak menyesal, tidak ada tangis yang menyesal di Ambon itu kalau anaknya mati, dia bilang anak saya sudah masuk surga,” paparnya.
Ia juga mengisahkan upayanya meredam konflik dengan pendekatan langsung kepada masyarakat di daerah konflik.
“Bicara dengan mereka. Tentu saya (juga) masuk daerah Islam, tapi satu saya berpidato di seluruh ribuan orang. Dengan hanya satu kata, bahwa sekalian anda merasa masuk surga, tidak benar itu! Anda semua di sini yang membunuh orang, masuk neraka! Terkejut dia. Tunjukkan sama saya, agama Islam dan Kristen, yang mengatakan, membunuh orang tidak bersalah masuk surga. Tunjukkan, mana! Di Islam tidak ada, di Kristen tidak ada, jadi anda semua masuk neraka. Semua berhenti. Semua diam,” kisahnya.
JK menuturkan, pendekatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan dialog yang berujung pada perdamaian, termasuk dalam konflik di Malino dan Poso. (*)
Editor : Ayu Oktaviana