KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang disebut mencapai 90 persen karyawan Tokopedia menghebohkan media sosial.
Informasi tersebut pertama kali ramai setelah diunggah akun Instagram @ecommurz yang menyebut ByteDance, perusahaan induk TikTok sekaligus pemegang saham mayoritas Tokopedia, melakukan perampingan besar-besaran terhadap tenaga kerjanya.
Dalam unggahan itu disebutkan bahwa PHK terjadi setelah peluncuran Tokopedia Lite.
Sejumlah divisi dilaporkan menjadi yang paling terdampak, di antaranya Technology, Research and Development (R&D), Trust and Safety (TnS), serta Finance.
Menanggapi kabar tersebut, TikTok akhirnya buka suara. Meski tidak membenarkan angka PHK hingga 90 persen seperti yang beredar, perusahaan mengakui tengah melakukan penyesuaian organisasi, khususnya pada divisi riset dan pengembangan.
“Kami tengah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan (R&D) pada ranah yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi bisnis kami, komunitas kreator, dan penjual di platform kami,” kata Juru Bicara TikTok mengutip CNN Indonesia, Jumat (3/7/2026).
Perusahaan menyebut langkah tersebut merupakan bagian dari strategi bisnis jangka panjang. TikTok juga mengakui keputusan melakukan pengurangan tenaga kerja bukanlah hal yang mudah.
“Ini bukan keputusan yang mudah, dan kami fokus untuk memberikan dukungan kepada rekan-rekan kami yang terdampak selama masa transisi ini,” ujarnya.
Di tengah isu PHK massal, TikTok memastikan komitmennya untuk terus mengembangkan Tokopedia sebagai salah satu platform e-commerce di Indonesia.
Perusahaan juga menegaskan akan tetap mendukung pertumbuhan pelaku usaha lokal yang berjualan melalui platform tersebut.
“Kami akan terus berinvestasi untuk menjadikan Tokopedia sebagai platform yang lebih baik bagi pengguna dan penjual kami, serta terus memberdayakan pelaku usaha lokal dalam membangun ekosistem e-commerce yang berkelanjutan di Indonesia,” ungkapnya.
Sebagai informasi, TikTok resmi menjadi pemegang saham mayoritas Tokopedia setelah mengakuisisi sekitar 75 persen saham perusahaan pada akhir 2023.
Hingga kini, perusahaan belum mengungkap jumlah pasti karyawan yang terdampak maupun mengonfirmasi klaim PHK mencapai 90 persen seperti yang ramai beredar di media sosial. (*)
Editor : Ayu Oktaviana