KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Putra Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, Yudo Achilles Sadewa memprediksi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Menurutnya, ancaman tersebut bukan dipicu oleh pelemahan ekonomi maupun kebijakan pemerintah, melainkan karena semakin masifnya penggunaan teknologi AI di dunia kerja.
Pernyataan itu disampaikannya melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya @bc.8a41121a. Dalam video tersebut, ia mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar mulai mempersiapkan diri menghadapi perubahan besar yang dibawa perkembangan AI.
“Gua prediksi akan ada PHK besar-besaran di seluruh dunia, termasuk di negara kita. Bukan karena ekonomi, bukan karena kebijakan pemerintah, bukan karena hal-hal lain, tetapi gara-gara AI,” ujarnya dikutip Kamis (6/8/2026).
Ia menilai pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang menjadi kelompok yang paling rentan tergantikan oleh teknologi. Karena itu, kemampuan memanfaatkan AI justru harus menjadi bekal utama agar tetap mampu bersaing di pasar kerja.
“Kalian kalau misalnya tidak pandai untuk memanfaatkan AI, maka AI akan mengambil alih kalian,” katanya.
Yudo menyarankan masyarakat mulai menghindari pilihan pekerjaan yang mudah diotomatisasi. Sebaliknya, ia mendorong generasi muda mengembangkan profesi yang membutuhkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan interaksi antarmanusia.
“Jangan cari pekerjaan yang sifatnya repetitif. Cari pekerjaan yang sifatnya tidak bisa digantikan oleh AI, dan perlu interaksi antar manusia agar nyambung gitu loh,” ucapnya.
Selain memilih jenis pekerjaan yang tepat, ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan AI sebagai alat belajar, bukan justru melihatnya sebagai ancaman.
“Mulai dari sekarang itu kalian wajib memanfaatkan AI untuk belajar skill baru kalau tidak mau diambil alih,” pesannya.
Pernyataan tersebut memicu beragam tanggapan di media sosial. Sebagian warganet sepakat bahwa perkembangan AI akan mengubah lanskap dunia kerja, sementara lainnya menilai teknologi tersebut lebih berperan sebagai alat pendukung yang tetap membutuhkan keterlibatan manusia dalam banyak bidang. (*)
Editor : Ayu Oktaviana