El Nino Diprediksi Bertahan Hingga 2027, Kekuatannya Disebut Lebih Parah dari Tahun 2015

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:30 WIB
Sejumlah bocah bermain di area persawahan yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau di Desa Pajukukang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. FOTO ANTARA
Sejumlah bocah bermain di area persawahan yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau di Desa Pajukukang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. EL nino semakin panjang.(Antara)

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Dampak kemarau panjang El Nino diperkirakan belum berakhir dalam waktu dekat.

Fenomena iklim tersebut berpotensi bertahan hingga awal 2027 dan kekuatannya saat ini disebut lebih tinggi dibandingkan El Nino yang terjadi pada 2015.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan pemerintah terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau perkembangan El Nino.

Menurut dia, kondisi terkini menunjukkan ancaman yang perlu diwaspadai lebih serius dibandingkan pengalaman satu dekade lalu.

“Per hari ini lebih tinggi dari 2015. Ini data dari BMKG yang kami selalu koordinasi. Sampai pagi ini saya terus berkoordinasi dengan BMKG,” ungkap Antoni dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, melansir Antara, Rabu (19/8/2026). 

Baca Juga: BMKG Memprediksi El Nino Aktif Mulai Pertengahan 2026 Hingga Awal 2027

Indikator Nino 3.4 yang digunakan BMKG menunjukkan angka +2,75. Level tersebut menggambarkan El Nino dengan intensitas sangat kuat, sekaligus menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah tengah hingga timur Samudra Pasifik berada jauh di atas kondisi normal.

Dampak fenomena itu terhadap Indonesia salah satunya berupa berkurangnya curah hujan.

Kondisi yang berlangsung dalam waktu panjang dapat membuat lingkungan semakin panas dan kering serta meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air.

Prakirawan BMKG Karangploso Malang Linda Fitrotul mengatakan hasil pemantauan menunjukkan El Nino sekarang lebih kuat dibandingkan kondisi pada 2025. Fenomena tersebut diperkirakan masih memberikan pengaruh selama musim kemarau 2026 dan berpotensi berlanjut sampai 2027.

”Terutama periode musim kemarau hingga sekitar pertengahan Oktober 2026,” imbuhnya mengutip Radar Malang. 

Ancaman tidak hanya berasal dari durasi El Nino yang panjang, tetapi juga dari potensi kondisi kering yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Vegetasi yang kehilangan kelembapan menjadi lebih mudah terbakar, sementara api berpotensi menyebar lebih cepat.

Potensi kekeringan juga dapat semakin meningkat apabila Indian Ocean Dipole (IOD) memasuki fase yang diprediksi berlangsung pada September-November 2026.

Fenomena tersebut dapat ikut menekan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Pemerintah meminta kewaspadaan diperkuat sejak sekarang. Antoni menilai kondisi iklim yang lebih panas dan kering dapat menciptakan situasi yang lebih rentan terhadap kebakaran.

“Kewaspadaan semua pihak menjadi penting untuk mencegah karhutla, terutama ketika kondisi iklim tahun ini berpotensi lebih kering dan panas dibandingkan periode normal,” tuturnya.

Masyarakat dan korporasi juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan. Pemerintah mengingatkan agar sumber api sekecil apa pun tidak dianggap sepele, termasuk puntung rokok yang dibuang sembarangan.

“Jangan membakar lahan. Masyarakat dan korporasi harus sama-sama waspada. Bahkan, putung rokok pun jangan sampai dibuang sembarangan, karena dalam kondisi kering seperti ini bisa menjadi sumber api,” paparnya.

Baca Juga: BMKG Memperkirakan Puncak Musim Kemarau di Kotim Bergeser dari Agustus ke September

Pengalaman 2015 menjadi salah satu alasan pemerintah meningkatkan kewaspadaan. Pada periode tersebut, El Nino memicu kemarau yang lebih panjang dan kering di sejumlah wilayah Indonesia.

Data NASA menunjukkan perubahan pola cuaca pada saat itu berkontribusi terhadap penurunan curah hujan secara signifikan.

Kondisi lahan yang semakin kering kemudian memperbesar kejadian karhutla dan menghasilkan kabut asap yang berdampak terhadap kualitas udara, aktivitas masyarakat hingga transportasi.

Jika El Nino saat ini benar-benar bertahan sampai awal 2027 dengan intensitas yang lebih kuat daripada 2015, periode panas dan kering berpotensi menjadi tantangan panjang bagi Indonesia.

Karena itu, pencegahan karhutla dan pengelolaan dampak kekeringan menjadi pekerjaan yang perlu dilakukan jauh sebelum fenomena tersebut mencapai fase berikutnya. (*)

Editor : Agus Pramono
kapan el nino berakhir el nino sampai 2027 el nino 2026 bmkg el nino