KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mulai berubah menjadi persoalan lintas negara. Ketika ratusan titik panas masih terdeteksi di sejumlah provinsi, pergerakan asap mulai mengarah ke wilayah Malaysia dan Singapura.
Di Serawak, Malaysia, kabut akibat kebakaran dari Kalimantan telah mencapai kawasan Tebedu. Kondisi tersebut bahkan membuat enam sekolah untuk sementara menghentikan kegiatan belajar mengajar akibat kualitas udara yang terdampak polusi.
Baca Juga: MUI Kotim Imbau Umat Islam Gelar Salat Istisqa Imbas Kabut Asap Karhutla
Singapura juga mulai meningkatkan kewaspadaan. Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) memantau potensi masuknya kabut asap dari Indonesia menyusul pergerakan angin yang membawa asap dari arah tenggara dan barat daya.
“Kondisi kering diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang. Dengan adanya angin yang bertiup dari arah tenggara atau barat daya, Singapura berpotensi mengalami kabut asap jika kebakaran tersebut semakin intensif,” ujar NEA. Dilansir dari Detik Kalimantan, Kamis (20/8/2026).
Dalam pembaruan yang disampaikan pada Rabu siang (19/8/2026) kemaren, NEA menyebut situasi titik panas dan sebaran asap di kawasan Asia Tenggara masih dapat berkembang. Risiko asap melintasi batas negara meningkat apabila kebakaran di Indonesia terus membesar.
Asap terpantau berasal dari wilayah Kalimantan dan Sumatera. Pola angin yang bergerak dari tenggara menuju barat daya hingga utara menjadi salah satu faktor yang membuat negara tetangga mencermati perkembangan karhutla di Indonesia.
Baca Juga: Gubernur Agustiar Sabran Minta Tambah Helikopter Water Bombing untuk Percepat Pemadaman Karhutla
Di dalam negeri, kabut asap mulai memengaruhi aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Sejumlah daerah mulai membatasi kegiatan di luar ruangan sebagai langkah perlindungan terhadap masyarakat. Gangguan juga merambah sektor transportasi karena terdapat rute penerbangan yang dihentikan sementara akibat kondisi udara dan jarak pandang.
Pemerintah pun memperbesar operasi pemadaman untuk mencegah karhutla meluas. Upaya dilakukan melalui jalur darat dan udara dengan mengerahkan armada tambahan untuk menjangkau lokasi yang sulit ditangani dari permukaan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat operasi modifikasi cuaca (OMC) khusus penanganan karhutla telah dilakukan sebanyak 17 kali dalam kurun 169 hari. Operasi tersebut didukung 291 sorti penerbangan.
Baca Juga: Kabut Asap Makin Pekat, Dinkes Palangka Raya Bagikan Masker dan Siapkan Oksigen untuk Warga
Selain OMC, BNPB menyiapkan 10 pesawat patroli untuk memantau kondisi lapangan. Sebanyak 27 helikopter water bombing juga dikerahkan untuk menjatuhkan air langsung ke titik kebakaran, ditambah tiga pesawat yang digunakan dalam operasi modifikasi cuaca.
Ancaman kabut asap ke Malaysia dan Singapura membuat tekanan terhadap penanganan kebakaran semakin besar. Pemerintah harus memastikan pemadaman berjalan efektif sekaligus mencegah sumber-sumber kebakaran baru selama kondisi kering masih berlangsung. (*)
Editor : Ayu Oktaviana