KALTENGPOS.JAWAPOS.COM- Kabut asap imbas kebakaran butan dan lahan (Karhutla) yang masuk ke wilayah Malaysia mendorong Kuala Lumpur dan Brunei Darussalam menempuh jalur ASEAN untuk menangani persoalan pencemaran udara lintas batas.
Malaysia menilai mekanisme regional menjadi jalan terbaik untuk merespons asap yang dampaknya dirasakan hingga negara tetangga.
Baca Juga: Daftar Bantuan Logistik Karhutla yang Dijanjikan Prabowo Sudah Tiba di Kalteng, Ada Senter dan Pompa
Kesepakatan tersebut dibahas Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim bersama Sultan Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah dalam Pertemuan Konsultasi Tahunan Pemimpin ke-27 atau 27th Annual Leaders’ Consultation (ALC-27) di Brunei Darussalam, Sabtu (22/8/2026).
“Kami berdua sepakat bahwa mekanisme ASEAN merupakan opsi terbaik. Kami telah meminta Menteri Luar Negeri Datuk Seri Mohamad Hasan untuk menangani persoalan ini,” ujar Anwar dalam konferensi pers penutupan kunjungan kerja dua hari di Brunei Darussalam, dikutip dari The Star, Senin (24/8/2026).
Langkah tersebut menyusul memburuknya kualitas udara di sejumlah kawasan Malaysia dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu muncul ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi di wilayah Kalimantan Tengah, dengan asap dilaporkan bergerak hingga kawasan yang berdekatan dengan Malaysia dan Brunei.
Data Air Pollution Index Management System (APIMS) Malaysia menunjukkan kondisi paling buruk tercatat di Serian, Sarawak. Pada Sabtu (22/8/2026) pukul 09.00 waktu setempat, angka Indeks Pencemaran Udara atau Air Pollution Index (API) di wilayah tersebut mencapai 190.
Baca Juga: Tim Pemburu Api Isen Mulang Mulai Bekerja, Memperkuat Satgas di Lapangan
Angka itu menempatkan Serian dalam kategori udara tidak sehat. Kondisi serupa juga terjadi di 10 wilayah lainnya.
Kuching mencatat API 182, Samarahan 177, sementara Sarikei dan Sri Aman masing-masing berada di angka 173. Selanjutnya, Sibu mencapai 161, Bintulu 157, sedangkan Samalaju dan Mukah masing-masing mencatat 156.
Dua wilayah lainnya, yakni Miri di Sarawak dan Bukit Rambai di Melaka, sama-sama berada pada angka 151.
Dalam sistem pengukuran API Malaysia, angka 0-50 dikategorikan baik. Rentang 51-100 masuk kategori sedang, sedangkan 101-200 tergolong tidak sehat. Adapun angka 201-300 menunjukkan kondisi sangat tidak sehat dan nilai di atas 300 dikategorikan berbahaya.
Sebelum kesepakatan Anwar dan Sultan Hassanal Bolkiah di Brunei, Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan telah menyampaikan rencana pemerintahnya membawa persoalan kabut asap tersebut ke tingkat ASEAN.
Baca Juga: Kabut Asap Kalimantan Sampai ke Malaysia, Menteri Jumhur: Gara-Gara Angin, Suka Bolak Balik
Pada Jumat (21/8/2026), Mohamad mengatakan Malaysia akan menggunakan jalur diplomatik ASEAN untuk mencari penyelesaian atas persoalan kabut asap lintas batas.
Kementerian Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia atau Ministry of Natural Resources and Environmental Sustainability (NRES) akan menjadi pihak yang menyiapkan surat resmi kepada Sekretariat ASEAN. Surat tersebut direncanakan dikirim dalam waktu dekat.
Kesepakatan untuk menggunakan mekanisme ASEAN kemudian kembali ditegaskan dalam pertemuan antara Anwar dan Sultan Brunei.
Anwar beserta delegasi Malaysia sebelumnya tiba di Istana Nurul Iman sekitar pukul 11.00 waktu setempat untuk mengikuti ALC-27 bersama Sultan Hassanal Bolkiah.
Persoalan kabut asap kini kembali menjadi perhatian kawasan karena dampaknya tidak berhenti di wilayah yang mengalami kebakaran. Asap yang terbawa angin dapat melintasi batas negara dan memengaruhi kualitas udara di wilayah lain.
Media Malaysia, Bernama, melaporkan peningkatan kabut asap lintas batas kembali menjadi perhatian negara-negara ASEAN setelah sejumlah daerah di Malaysia mengalami penurunan kualitas udara dalam beberapa hari terakhir.
Dengan membawa persoalan tersebut ke mekanisme ASEAN, Malaysia dan Brunei memilih pendekatan regional untuk menangani dampak kabut asap yang kembali melintasi perbatasan. (*)
Editor : Ayu Oktaviana