Satelit NASA Abadikan Kondisi Kalimantan Tertutup Asap: Ancaman Emisi dan Asap Kian Serius

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 10:14 WIB
Pulau Kalimantan dari radar satelit NASA.(Instagram)
Pulau Kalimantan dari radar satelit NASA.(Instagram)

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Indonesia kembali menjadi sorotan dunia. Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mencatat kebakaran lahan gambut di Indonesia terus meningkat di tengah musim kemarau 2026.

Kebakaran lahan gambut menjadi salah satu jenis kebakaran yang paling berbahaya. Api tidak hanya membakar tanaman dan pepohonan di permukaan, tetapi juga dapat merambat jauh di dalam tanah.

Baca Juga: Induk dan Anak Orangutan Terjebak Karhutla Dievakuasi BKSDA dan OFI Menjalani Pemeriksaan Kesehatan

Kondisi itulah yang membuat api gambut sangat sulit dipadamkan. Meski api di permukaan sudah terlihat padam, bara masih bisa terus menyala di bawah tanah hingga akhirnya muncul kembali di tempat lain.

“Kalau api sudah masuk ke bawah tanah, kebakaran itu tidak akan berhenti. Api akan terus menyala sampai hujan datang pada Oktober atau November,” kata peneliti Universitas Columbia, Robert Field, seperti dikutip NASA dalan websidenya. 

Citra satelit NASA yang diunggah pada di akun X @NASAEarth, pada Jumat (4/9/2026) menunjukkan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat pada 1 September 2026. Gambar tersebut diambil oleh sensor MODIS pada satelit Aqua milik NASA. Gambar itu menunjukkan hampir seluruh pulau Kalimantan tertutup asap. 

NASA mencatat kebakaran gambut juga menghasilkan polusi yang jauh lebih besar dibandingkan kebakaran hutan tropis biasa. Asap dari kebakaran gambut mengandung lebih banyak partikel halus, karbon monoksida, metana, hingga sulfur dioksida.

Partikel halus tersebut dapat terbawa asap dan membahayakan kesehatan manusia, terutama jika masyarakat terpapar dalam waktu lama.

Baca Juga: Bocah 11 Tahun Sesak Napas Lalu Meninggal, Paparan Kabut Asap Memperparah Penyakit Bawaannya

NASA menyebut kondisi kebakaran tahun ini mulai mengingatkan pada situasi 2015, ketika Indonesia mengalami salah satu bencana karhutla terburuk dalam beberapa dekade terakhir.

Field mengatakan, aktivitas kebakaran pada awal musim kemarau 2026 meningkat cukup tajam.

“Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakaran, tetapi kita melihat aktivitas kebakaran meningkat tajam, mirip dengan 2015,” katanya.

Menurutnya, musim kemarau tahun ini semakin kering akibat pengaruh El Niño. Kondisi tersebut membuat wilayah rawan kebakaran semakin mudah terbakar.

“El Niño yang kuat membuat musim kemarau semakin kering di wilayah-wilayah rawan kebakaran di Indonesia dan memperparah kebakaran,” ujarnya.

Tahun 2015, kebakaran yang berlangsung lebih dari tiga bulan menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah sangat besar. Emisinya bahkan disebut melebihi jumlah emisi tahunan Jepang.

Sementara itu, hingga 2 September 2026, kebakaran yang telah berlangsung sekitar satu bulan disebut telah menghasilkan emisi sekitar 10 persen dibandingkan total emisi kebakaran Indonesia pada 2015.

Baca Juga: Inovasi Cairan Shabodama Diklaim Mampu Tekan Penggunaan Air untuk Padamkan Karhutla Gambut

Kondisi kebakaran diperparah kekeringan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data yang dikutip NASA, sekitar 90 persen wilayah Indonesia mengalami sedikit atau bahkan tidak ada hujan pada awal Agustus 2026.

Padahal, dalam kondisi normal, lahan gambut di Kalimantan, Sumatra dan Papua memiliki cukup air sehingga sulit terbakar.

Namun saat musim kemarau panjang, gambut menjadi kering. Api pun dapat merambat hingga ke dalam lapisan tanah.

Pemerintah Indonesia sendiri terus memantau perkembangan kebakaran menggunakan data satelit NASA dan NOAA melalui sensor MODIS dan VIIRS.

Platform pemantauan kebakaran SiPongi mencatat 946 titik panas di Indonesia pada 31 Agustus 2026.

Namun, pemantauan dari satelit memiliki keterbatasan. Asap tebal, awan, tutupan hutan, hingga api yang membara di bawah tanah dapat membuat kebakaran sulit terdeteksi.

Ahli ekologi University of Maryland Center for Environmental Science, Mark Cochrane, mengatakan kebakaran dengan asap paling tebal justru dapat menjadi yang paling sulit dilihat satelit.

“Peristiwa asap terburuk, secara paradoks, justru bisa menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa dengan MODIS dan VIIRS,” katanya.

Indonesia memiliki sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia. Besarnya kawasan gambut tersebut menjadikan Indonesia sangat rentan mengalami kebakaran besar ketika musim kemarau berlangsung panjang.

Baca Juga: Kabut Asap Kalimantan Sampai Ke Negara Tetangga, Malaysia dan Brunei Mengadu ASEAN

Setelah kebakaran besar 2015, pemerintah dan berbagai pihak telah melakukan sejumlah upaya. Di antaranya memperbaiki tata air gambut, menutup atau membendung sejumlah kanal, memulihkan lahan basah, hingga meningkatkan kemampuan pemadaman kebakaran.

Namun, kondisi pada musim kemarau tahun ini akan menjadi ujian bagi berbagai upaya tersebut.

“Tahun ini akan menjadi ujian nyata terhadap berbagai langkah yang diterapkan setelah 2015,” kata peneliti Shi Jun Wee.

Asap karhutla sendiri telah mulai mengganggu kehidupan masyarakat. Sejumlah wilayah mengalami penurunan kualitas udara, beberapa sekolah mulai menerapkan pembelajaran jarak jauh, sembilan taman nasional ditutup, dan sejumlah penerbangan dilaporkan mengalami penundaan akibat asap tebal.

Cochrane mengingatkan agar penanganan karhutla tidak hanya menjadi perhatian ketika El Niño datang dan kebakaran membesar.

“Orang cenderung memperhatikan kebakaran ini ketika terjadi El Niño, lalu melupakannya. Kita memerlukan perhatian yang berkelanjutan, bahkan pada tahun-tahun ketika kondisinya tidak terlalu buruk, untuk menyelesaikan masalah ini,” katanya.

Ia menegaskan, kebakaran gambut bukan hanya menghasilkan asap yang mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga melepaskan emisi dalam jumlah besar.

“Kebakaran ini menghasilkan emisi yang sangat besar,” pungkasnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
NASA karhutla lahan gambut