KALTENGPOS.JAWAPOS.COM- Musim hujan 2026/2027 menjadi musim yang ditunggu-tunggu warga Kalimantan Tengah sekarang ini. Pasalnya, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tak terkendali dan diperparah dengan kabut asap membuat masyarakat resah.
Namun, nampaknya harus sedikit lebih bersabar. Musim hujan di Indonesia diperkirakan datang lebih lambat dari kondisi normal. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebagian besar wilayah baru mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026.
Baca Juga: BMKG Prediksi Awan Hujan Tumbuh di Kalteng: Modifikasi Cuaca, dan Peluang Turunnya Hujan
Keterlambatan tersebut tidak berarti risiko bencana hidrometeorologi menjadi lebih kecil. BMKG justru memprediksi akumulasi curah hujan selama musim 2026/2027 berada di atas kondisi normal, sehingga hujan deras dalam waktu singkat tetap perlu diantisipasi.
Kepala BMKG Teuku Faisal mengatakan keterlambatan musim hujan berkaitan dengan fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang berlangsung bersamaan. Kondisi tersebut memperpanjang periode kering di sebagian besar wilayah Indonesia.
“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” kata Teuku Faisal dikutip dalam siaran pers, Jumat (25/9/2026).
BMKG memperkirakan 529 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia mengalami awal musim hujan yang lebih lambat dari biasanya. Durasi musim hujan juga diprediksi lebih pendek dari normal pada 482 ZOM atau sekitar 51,90 persen luas daratan Indonesia.
Awal Musim Hujan November 2026
Sebanyak 185 ZOM atau sekitar 24,66 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November 2026.
Wilayah yang diprediksi mulai mengalami musim hujan pada periode ini meliputi:
• Sebagian Sumatera
• Sebagian Jawa
• Sebagian Kalimantan
• Sebagian Bali
• Sebagian NTB
• Sebagian NTT
• Sebagian Sulawesi
• Sebagian Maluku Utara
• Sebagian Maluku
• Papua Barat bagian utara
• Sebagian Papua Selatan
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan awal musim hujan memang tidak terjadi secara serentak. Sebagian wilayah lainnya baru akan mengalaminya pada bulan berikutnya.
Awal Musim Hujan Desember 2026
Pada Desember 2026, sebanyak 266 ZOM atau sekitar 17,31 persen wilayah Indonesia diperkirakan baru memasuki musim hujan.
Wilayah tersebut mencakup:
• Sebagian Lampung
• Sebagian besar Jawa
• Sebagian Kalimantan Selatan
• Sebagian besar Bali
• Sebagian besar NTB
• Sebagian besar NTT
• Sebagian besar Sulawesi
• Sebagian Maluku Utara
• Sebagian Maluku
• Papua Selatan bagian selatan
Dengan demikian, periode November dan Desember menjadi fase utama masuknya musim hujan 2026/2027 di berbagai wilayah Indonesia.
Puncak Musim Hujan Mulai Desember
Setelah musim hujan mulai berlangsung, BMKG memprediksi fase puncaknya terjadi secara bertahap mulai Desember 2026 hingga Februari 2027.
Desember 2026 menjadi periode dengan cakupan puncak musim hujan paling luas. Sebanyak 155 ZOM atau sekitar 36,94 persen luas daratan Indonesia diprediksi mencapai puncak hujan.
Wilayahnya antara lain sebagian Sumatera, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi Utara, pesisir selatan Gorontalo, sebagian kecil Sulawesi Tengah, sebagian besar Sulawesi Barat, sebagian Maluku, serta sejumlah wilayah Papua.
Pada Januari 2027, puncak musim hujan diperkirakan terjadi di 162 ZOM atau sekitar 25,68 persen luas daratan Indonesia.
Wilayah yang masuk periode ini antara lain Riau bagian selatan, Kepulauan Riau bagian tengah, sebagian Jambi, Bengkulu bagian utara, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan bagian barat, Lampung bagian utara, sebagian Jawa, Bali bagian tengah, NTB bagian barat, sebagian NTT, serta sejumlah wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Sementara itu, Februari 2027 diperkirakan menjadi puncak musim hujan bagi 190 ZOM atau sekitar 16,79 persen luas daratan Indonesia.
Wilayahnya meliputi Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa, sebagian besar Bali, sebagian NTB, sebagian besar NTT, Sulawesi Barat bagian selatan, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, sebagian Maluku, serta sebagian besar Pulau Papua.(*)
Editor : Agus Pramono