Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik

Program MBG Dikritik, Ada Menu Basi dan Bau, Disdik; Hubungi Call Center atau Datang ke Dinas

Ayu Oktaviana • Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:31 WIB
Anak-anak pelajar salah satu sekolah saat menyantap makanan yang dibagi melalui program MBG, belum lama ini. BAHRI/KALTENGPOS
Anak-anak pelajar salah satu sekolah saat menyantap makanan yang dibagi melalui program MBG, belum lama ini. BAHRI/KALTENGPOS

PALANGKA RAYA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Kota Palangka Raya menuai keluhan dari para orang tua murid.

Sejumlah warganet mengungkapkan kekecewaannya di media sosial, menilai sejumlah makanan yang dibagikan tidak layak konsumsi dan berisiko membahayakan kesehatan anak-anak.

Seorang warganet dengan akun @ibnuzagin menuliskan bahwa banyak nasi yang dibagikan di sekolah dasar (SD) sudah dalam kondisi basi, berlendir, dan berbau.

“Banyak nasi yang dibagikan sudah tidak layak dimakan (basi, berlendir, bau) di sekolah dasar dan bisa membuat anak sakit perut,” tulisnya.

Keluhan serupa disampaikan akun @dea.d.dai.5 yang menceritakan pengalaman anaknya saat menerima makanan MBG di sekolah. Ia bahkan mengajak pihak terkait untuk merasakan langsung menu yang dibagikan.

“Coba kemarin hari Selasa ikut makan bareng di sekolah MI dan sekolah SMK anak-anak ku. Pasti bisa ikut merasakan nikmatnya yang katanya MBG ini,” ujarnya.

Pengalaman kurang menyenangkan juga diungkapkan akun @lisnameiriana. Ia menyebut anaknya sempat menerima lauk ayam dalam kondisi busuk pada hari pertama program.

“Hari Selasa hari pertama di sekolah anakku dapat ayam bau busuk,” tulisnya.

Tidak hanya di tingkat SD dan MI, kualitas makanan di SMP juga menjadi sorotan. Akun @vina_vivian menuturkan bahwa sayur yang disajikan di sekolah anaknya tercium basi.

“Di SMP satu, kemarin masakan yang sayurnya basi kata anak saya. Tapi sama gurunya anak-anak tidak boleh komplain apalagi sampai difoto sebagai bukti,” tulisnya.

Unggahan itu pun mendapat respons dari warganet lain yang menilai kondisi tersebut berbahaya bagi kesehatan anak-anak.
“Bahaya itu, Mbak. Apalagi makanan buat anak-anak bisa bikin sakit perut,” timpal akun @sri_silam.

Komentar-komentar serupa terus bermunculan dengan nada kecewa. Bahkan ada yang menduga pihak sekolah membatasi dokumentasi agar masalah tidak terangkat ke publik.

“Betul sekali, Mbak. Anak-anak tidak boleh memfoto makanan,” kata akun @americanousr.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi siswa di sekolah. Namun, sejumlah temuan di lapangan yang dikeluhkan para orang tua justru menimbulkan pertanyaan besar soal pengawasan dan standar penyajian makanan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Provinsi Kalimantan Tengah terkait keluhan yang ramai disuarakan masyarakat tersebut.

Seperti diketahui, penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Palangka Raya telah mencapai 30 persen dari 100 persen target penyaluran. Setidaknya ada sekitar 139 sekolah telah menerima MBG dan sebanyak 32.570 siswa penerima MBG dari jenjang Paud hingga SMA di Kota Cantik.

Jumlah ini akan terus bertambah mengingat masih banyak satuan pendidikan yang belum menerima program pemerintah pusat itu.

Diketahui dalam waktu dekat, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan Diponegoro akan diluncurkan. Dapur itu dapat menampung hingga 23 sekolah dengan kapasitas sebaran 3.110 siswa penerima manfaat.

“Jumlah dapur SPPG ini dibangun dilihat dari cakupan kapasitas SPPG, bahkan satu dapur bisa mencakup hingga tiga kecamatan yang berbeda,”ucap Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Jayani melalui Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Aprae Vico Manan, Jumat (22/8/2025).

Hingga saat ini, terhitung sebanyak 11 dapur SPPG yang telah beroperasi. Tujuh diantaranya berada di Kecamatan Jekan Raya, dua diantaranya berada pada Kecamatan Pahandut, serta di Kecamatan Bukit Batu dan Kecamatan Sabangau masing-masing satu dapur SPPG.

Vico menjelaskan Pemko Palangka Raya memberikan dukungan terhadap program nasional itu melalui pembangunan dapur SPPG. Terkait dana untuk operasional, itu 100 persen merupakan dana dari APBN atau pemerintah pusat.

“Dalam hal ini, kami mensupport dalam hal penyediaan data, baik itu dana sebaran siswa maupun komunikasi dengan pihak sekolah,” terangnya.

Terkait adanya keluhan dari orang tua siswa terhadap makanan berbau tidak sedap ketika hendak disantap, Vico menyarankan orang tua siswa untuk berkonsultasi ataupun menyuarakan aspirasi tersebut ke Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palangka Raya.

Pihaknya sangat terbuka terhadap kritik, saran, dan masukan dari orang tua/wali siswa pada pelaksanaan MBG ini.

“Bisa melalui call centernya atau langsung datang ke dinas, sehingga kami bisa langsung berkomunikasi dengan teman-teman BGN, agar teman-teman BGN dapat melakukan koreksi ke masing-masing dapur SPPG,” tuturnya.

Selain itu, pihaknya juga telah menerbitkan dan melayangkan surat edaran kepada satuan pendidikan yang telah menerima MBG. Dalam surat tersebut ditekankan bahwa waktu maksimal menikmati makanan itu dua jam setelah makanan diterima.

“Misalnya jam 7 pagi makanan telah diterima, ya maksimal jam 9 telah dinikmati oleh anak-anak, agar hal-hal yang tidak diinginkan terulang,” tegasnya.

Disdik terus memantau kondisi penyaluran MBG ini. Warga cukup menyebutkan sekolah nya saja, maka dapur SPPG yang menyajikan makanan sudah bisa dilacak.

SD Islam Darussalam Palangka Raya Nikmati Program MBG
Program MBG yang digagas pemerintah pusat semakin meluas cakupannya. Tidak hanya sekolah negeri, sekolah swasta pun mulai menerima manfaatnya. Salah satunya adalah SD Islam Darussalam Palangka Raya yang terletak di Jalan G. Obos Induk, yang sejak awal Juli lalu sudah mulai menerima program ini bagi seluruh muridnya.

Kepala Satuan Pendidikan SD Islam Darussalam Palangka Raya, Jamatul Solihin, mengungkapkan program MBG telah berjalan hampir dua bulan dan menyentuh sekitar 325 anak di sekolah ini. "Betul, sekolah kami sudah menerima MBG ini sejak awal Juli. Jadi sudah berjalan hampir mendekati dua bulan. Anak yang menerima itu kurang lebih 325 anak," ujarnya.

Pelaksanaan MBG di sekolah ini difokuskan pada sarapan pagi. Setiap hari, makanan diantarkan ke sekolah sekitar pukul 06.00 pagi. Sesampainya di sekolah, para murid langsung diarahkan menuju dapur sekolah untuk menikmati sarapan bersama sebelum jam pelajaran dimulai.

"Pokoknya jam 6 sampai jam 6.40, anak-anak datang langsung diarahkan ke dapur untuk sarapan, ada tempat makannya sendiri. Karena MBG ini memang khusus untuk pagi, untuk sarapan. Kalau siang sudah ada makan siang dari sekolah," jelas Jamatul.

Mengenai respons para murid, menurutnya sejauh ini cukup positif. Anak-anak terlihat bersemangat saat menu yang disajikan menarik.

"Kalau respon anak-anak itu tergantung menunya. Kalau menunya menarik bagi anak, banyak yang makan. Kalau keluhan tidak ada sebenarnya, sementara belum ada. Hanya saja kadang-kadang makanan sudah tidak hangat saat disantap. Tapi secara umum baik," katanya.

Menu MBG di SD Islam Darussalam cukup beragam, mulai dari sayur, lauk berbahan ikan, hingga buah-buahan. Variasi menu ini menjadi salah satu daya tarik bagi siswa, meski ada catatan kecil terkait penyajiannya.

"Kalau untuk menu pada dasarnya sudah sesuai standar. Sayur ada, ikan ada, buah juga sudah masuk. Hanya saja untuk susu kita memang tidak meminta karena memang ada beberapa orang tua yang tidak berkenan, sehingga kita mengambil opsi untuk tidak saja," jelasnya.

Ia menambahkan, pihak sekolah juga berharap ke depan bisa ada perbaikan dalam hal penyajian agar makanan tetap hangat saat dikonsumsi murid. Selain itu, sekolah juga siap memberikan masukan bila ada evaluasi dari pihak penyedia.

"Kita harapannya pasti tetap berlanjut. Mungkin nanti pihak dapur bisa menerima masukan dari sekolah, misalnya soal penyajian atau variasi menu," tutur Jamatul.

Program MBG di SD Islam Darussalam dilaksanakan dengan sistem sekali antar. Setiap pagi, 325 porsi langsung dikirim dan dibagikan kepada para murid. Setelah sarapan, wadah makanan dikumpulkan kembali sekitar pukul 09.00 hingga 11.00.

Sementara pada jam istirahat, para murid biasanya hanya menikmati snack atau bekal dari rumah, karena makan siang telah difasilitasi sekolah sejak sebelum program MBG masuk.

Secara keseluruhan, pihak sekolah menyambut baik adanya MBG yang dianggap mampu membantu memenuhi kebutuhan gizi anak sejak pagi hari. "Responnya sangat positif. Anak-anak jadi lebih siap belajar setelah sarapan bersama. Harapan kami program ini bisa terus berlanjut dan semakin baik ke depannya," pungkasnya. (ovi/ham/mut/ala)

Touring yang berlangsung selama beberapa hari ini menyatukan dua elemen besar, yakni dunia otomotif dan pariwisata kreatif.
Touring yang berlangsung selama beberapa hari ini menyatukan dua elemen besar, yakni dunia otomotif dan pariwisata kreatif.
JUARA: Tampak para siswa-siswi SMK TI Labbaika yang tergabung dalam sanggar tari meraih juara 1 persembahan Disporapar Samarinda dalam HUT RI ke-80.
JUARA: Tampak para siswa-siswi SMK TI Labbaika yang tergabung dalam sanggar tari meraih juara 1 persembahan Disporapar Samarinda dalam HUT RI ke-80.
Editor : Ayu Oktaviana
#SD Islam #Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG #Jayani #Satuan pendidikan #Komplain #palangka raya #sekolah #Tidak Layak #Tidak Layak Konsumsi #Makan Bergizi Gratis (MBG) #basi #Penyajian #pengawasan #dinas pendidikan