PALANGKA RAYA - Sekolah Rakyat (SR) Palangka Raya terus berbenah dalam proses pembelajaran dan pembentukan karakter peserta didik.
Selama dua minggu pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), SR ini mulai menerapkan tiga kurikulum sekaligus, yakni Kurikulum Nasional, Kurikulum Asrama, dan Kurikulum Multi Entry Multi Exit (MEME).
Kepala Sekolah Rakyat Palangka Raya Ranny Triayu Sintha, menjelaskan penerapan tiga kurikulum ini dilakukan karena karakter dan sistem di SR berbeda dengan sekolah pada umumnya.
“Untuk kurikulum, kami menggabungkan tiga pendekatan yaitu Kurikulum Nasional, Kurikulum Asrama, dan Kurikulum MEME. Semua kami sesuaikan agar sejalan dengan kebutuhan peserta didik di lingkungan asrama,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (10/10/2025).
Selain penerapan kurikulum Ranny menuturkan bahwa pembentukan karakter menjadi fokus utama. Peserta didik diarahkan untuk mengenal rutinitas, menanamkan nilai-nilai kebersamaan serta membiasakan diri dalam beribadah sesuai agama masing-masing.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga tumbuh dengan karakter yang kuat dan berakhlak,” tambahnya.
Selama MPLS berlangsung pihak sekolah juga melakukan pemantauan ketat terhadap kondisi kesehatan siswa.
SR bekerja sama dengan Puskesmas Marina dalam layanan kesehatan dasar dan pemeriksaan rutin.
“Kami juga menyediakan obat-obatan ringan seperti penurun panas, antiseptik, dan vitamin agar penanganan awal bisa cepat dilakukan,” kata Ranny.
Dari sis i kebutuhan gizi sekolah mengatur pola makan siswa secara seimbang dengan memperhatikan kenyamanan mereka. Sesekali anak-anak diperbolehkan menikmati teh hangat atau susu agar tidak bosan.
Sementara itu dari sisi keamanan Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang ditugaskan langsung oleh Kementerian Sosial turut berjaga selama 24 jam di area asrama.
Salah satu peserta didik, Putra Rahmadhan mengaku masih merasa rindu dengan keluarga di rumah.
“Iya, kangen,” ucapnya singkat. Menyikapi hal ini, Ranny mengakui bahwa aspek psikologis anak menjadi perhatian penting pihak sekolah.
“Pada pekan pertama, beberapa peserta didik memang sempat menangis karena rindu orang tua. Guru dan pengasuh berupaya menenangkan mereka dengan pendekatan kekeluargaan,” jelasnya.
Ia menambahkan komunikasi antara siswa dan orang tua tetap dijaga melalui pendamping dan fasilitas video call agar anak-anak merasa tenang.
“Kami berperan bukan hanya sebagai guru, tapi juga sebagai pengganti orang tua di asrama,” ujar Ranny.
Kini memasuki pekan ketiga kondisi siswa mulai stabil dan terbiasa dengan lingkungan baru.
“Sekarang sudah tidak ada lagi anakanak yang menangis. Mereka sudah asyik belajar dan bermain,” tuturnya.
SR pun mulai memetakan kemampuan akademik siswa melalui uji baca dan tulis untuk mengenali potensi dan minat masing-masing anak sebelum kegiatan belajar reguler dimulai pekan depan. (chi/ala)
Editor : Anisa Bahril Wahdah