Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Menteri P2MI Mukhtarudin: Bahasa Jadi Penentu Daya Saing Pekerja Migran, Kalteng Perlu Menyiapkan SDM untuk Peluang Global

Agus Pramono • Sabtu, 29 November 2025 | 11:00 WIB
Menteri P2MI Mukhtarudin  bersama para mahasiswa.ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS
Menteri P2MI Mukhtarudin bersama para mahasiswa.ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS

 

PALANGKA RAYA-Menteri Pemberdayaan dan Perlindungan Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, menegaskan bahwa kemampuan bahasa asing menjadi tantangan terbesar sekaligus penentu daya saing pekerja migran Indonesia, termasuk dari Kalimantan Tengah (Kalteng).

Hal itu disampaikan saat dirinya menghadiri pembukaan Job Fair Universitas Palangka Raya di halaman Gedung Rektorat UPR, Jumat (28/11/2025).

Saat menghadiri acara yang didominasi mahasiswa dan pencari kerja dari berbagai kabupaten/kota di Kalteng itu, Mukhtarudin mengingatkan bahwa peluang kerja internasional sangat terbuka, namun kesiapan SDM Indonesia masih lemah terutama dari sisi penguasaan bahasa.

“Kelemahan terbesar kita sebagai pekerja migran adalah bahasa. Bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Korea, dan Arab, ini lima bahasa yang secara eksplisit diminta Presiden untuk dipersiapkan,” ujarnya.

Mukhtarudin mencontohkan bagaimana Filipina berhasil menguasai pasar pekerja migran profesional di Timur Tengah karena kualitas bahasa Inggris tenaga kerjanya.

“Kekalahan kita dengan Filipina itu di bahasa. Mereka bahasa Inggrisnya bagus. Hampir seluruh negara Timur Tengah, Dubai, Uni Emirat Arab, dan lainnya lebih banyak mengambil pekerja profesional dari Filipina,” katanya.

Kondisi ini, menurutnya, harus menjadi peringatan bagi Indonesia, termasuk daerah seperti Kalteng yang tengah gencar mendorong peningkatan SDM untuk menyongsong ekspansi industri dan hilirisasi di berbagai sektor.

Dalam kesempatan tersebut, Mukhtarudin menegaskan bahwa Presiden RI telah memberi arahan untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib, terutama di SMA dan SMK. Selama ini, bahasa asing hanya menjadi pelajaran pendukung sehingga hasil pembelajarannya tidak maksimal.

“Tidak ada masalah soal kurikulum sebenarnya. Permasalahannya hanya karena belum dijadikan kurikulum wajib. Ke depan, Presiden menginginkan bahasa Inggris diwajibkan di sekolah,” tegasnya.

Adapun bahasa lain seperti Mandarin, Jepang, Korea, dan Arab tetap akan diperkuat melalui kursus dan pelatihan tambahan yang dapat dikembangkan daerah, termasuk Kalteng yang diharapkan mampu menyiapkan tenaga kerja berdaya saing tinggi.

Mukhtarudin menjelaskan bahwa kebutuhan bahasa asing tidak hanya bagi mereka yang ingin bekerja ke luar negeri. Perusahaan-perusahaan dalam negeri yang berorientasi ekspor juga sudah mensyaratkan kemampuan bahasa asing dalam rekrutmen.

“Orang melamar pekerjaan di perusahaan dalam negeri saja, pasti ditanya kemampuan bahasa Inggrisnya. Pasif atau aktif? Bisa menulis atau berbicara dalam bahasa Mandarin?” ujarnya.

Ia bahkan menyampaikan bagaimana penguasaan bahasa sering menjadi pembeda utama dalam seleksi kerja.

“Jika ada dua pelamar, satunya IPK 3 koma sekian dan satu lagi 2,9, tapi yang IPK 2,9 bisa bahasa Inggris aktif, perusahaan pasti ambil yang itu. Karena kebutuhan dunia kerja sekarang sudah menuntut interaksi global,” ungkapnya.

Menteri P2MI itu menegaskan bahwa daerah seperti Kalteng yang tengah mendorong investasi dan industrialisasi harus mulai melatih SDM yang kompetitif secara global. Penguasaan bahasa asing, katanya, adalah syarat mutlak untuk bersaing dalam ekonomi modern.

“Semua perusahaan kita hari ini berorientasi ekspor. Artinya mereka akan berhubungan dengan dunia global. Penguasaan bahasa itu syarat mutlak,” tegasnya.

Mukhtarudin mengajak perguruan tinggi, sekolah, dan pemerintah daerah di Kalteng untuk bersama-sama membangun generasi yang siap memasuki pasar kerja internasional. (ovi/ram)

Editor : Ayu Oktaviana
#pekerja migran #peningkatan sdm #ekonomi modern #kalimantan tengah #dunia kerja #Mukhtarudin #universitas palangka raya #pasar kerja #kemampuan bahasa asing #penguasaan bahasa #filipina