MASYARAKAT yang bermukim di wilayah pesisir Kalimantan Tengah diminta meningkatkan kewaspadaan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi banjir pesisir atau rob yang diperkirakan terjadi pada pertengahan hingga akhir Januari 2026.
Peringatan tersebut disampaikan melalui siaran pers Direktorat Meteorologi Maritim BMKG Rabu (14/1/2026). Fenomena rob ini dipicu oleh fase Bulan Baru yang akan terjadi pada Senin (19/1/2026) mendatang dan berpotensi meningkatkan ketinggian maksimum air laut.
Dalam rilis tersebut, BMKG menyebutkan bahwa sejumlah wilayah pesisir di Kalimantan Tengah masuk dalam daftar daerah yang berpotensi terdampak. Lokasi yang perlu diwaspadai antara lain pesisir Kumai, Pantai Lunci, Kuala Jelai, Kuala Pembuang, hingga kawasan pesisir Sampit.
“Adanya fase Bulan Baru berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum, sehingga dapat memicu terjadinya banjir pesisir di sejumlah wilayah,” tulisnya.
Di Kalteng sendiri, perkiraan banjir rob terjadi ditanggal 15 - 25 Januari dan 29 - 31 Januari 2026 untuk wilayah Pesisir Kumai, Pesisir Pantai Lunci, dan Pesisir Kuala Jelai. Sementara untuk wilayah Pesisir Kuala Pembuang dan Pesisir Sampit diperkirakan terjadi pada 16 - 24 Januari dan 29 - 31 Januari 2026.
BMKG menjelaskan, banjir rob berpotensi terjadi secara bertahap, terutama pada wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan laut lepas dan daerah muara sungai. Kondisi tersebut dapat menyebabkan genangan di permukiman pesisir serta mengganggu aktivitas masyarakat.
Selain Kalimantan Tengah, potensi serupa juga diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah pesisir lain di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, hingga Kalimantan bagian lain. Namun, BMKG menegaskan setiap daerah memiliki periode dan tingkat risiko yang berbeda.
“Dampak banjir rob umumnya dapat mengganggu aktivitas di sekitar pelabuhan dan pesisir, termasuk bongkar muat, permukiman warga, serta kegiatan perikanan dan tambak,” tulis BMKG.
Menyikapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat pesisir, khususnya nelayan dan warga yang tinggal di dataran rendah, agar selalu waspada dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi pasang surut air laut.
“Masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan informasi cuaca maritim dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG,” imbau BMKG.(mif/ram)
Editor : Ayu Oktaviana