PALANGKA RAYA-Pemanfaatan pangan lokal dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi berbagai persoalan gizi di daerah, termasuk stunting dan anemia.
Di Kalteng, kekayaan sumber pangan lokal seperti ikan sungai dan tanaman khas daerah memiliki potensi besar untuk mendukung perbaikan status gizi masyarakat, khususnya anak-anak.
Ahli Gizi di Palangka Raya Adisty Cynthia menyampaikan bahwa Kalteng sebenarnya memiliki sumber pangan bergizi tinggi yang mudah dijangkau oleh masyarakat.
Salah satunya adalah ikan sungai yang melimpah di hampir seluruh wilayah Kalteng.
“Pemanfaatan pangan lokal sangat penting, terutama ikan sungai yang banyak terdapat di Kalimantan Tengah. Ikan-ikan tersebut memiliki kandungan protein yang tinggi dan sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak,” ujarnya, Jumat (23/1/2026).
Ia menjelaskan, protein berperan besar dalam pembentukan sel, jaringan tubuh, serta mendukung perkembangan otak anak. Konsumsi ikan secara rutin juga dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah berbagai masalah gizi.
Selain ikan sungai, Adisty juga menyoroti tanaman khas Kalteng yang memiliki khasiat luar biasa untuk gizi dan kesehatan, yakni kalakai. Tanaman yang kerap dijumpai di pekarangan dan lahan rawa ini mengandung zat besi (Fe) yang sangat tinggi.
“Kalakai merupakan salah satu tanaman khas Kalteng yang paling bagus khasiatnya. Kandungan zat besinya tinggi, sehingga sangat efektif untuk mencegah dan mengatasi anemia, meningkatkan kadar hemoglobin (Hb), dan sering dimanfaatkan untuk membantu mengatasi stunting,” jelasnya.
Menurutnya, anemia masih menjadi salah satu masalah gizi yang cukup serius, terutama pada ibu hamil dan anak-anak. Kekurangan zat besi dapat berdampak pada pertumbuhan, konsentrasi belajar, hingga risiko stunting. Oleh karena itu, pemanfaatan kalakai sebagai sumber pangan lokal dinilai sangat strategis.
Adisty menambahkan, optimalisasi pangan lokal tidak hanya berdampak pada perbaikan gizi, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan kemandirian daerah. Dengan mengonsumsi pangan yang tersedia di lingkungan sekitar, masyarakat dapat memperoleh asupan gizi yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.
“Yang terpenting adalah bagaimana pangan lokal ini bisa diolah dengan baik, higienis, dan menarik, sehingga anak-anak dan keluarga mau mengonsumsinya secara rutin,” tuturnya.
Ia berharap, ke depan pemanfaatan pangan lokal seperti ikan sungai dan kalakai dapat terus didorong melalui edukasi gizi, program kesehatan, serta dukungan lintas sektor, sehingga masalah gizi di daerah, khususnya di Kalimantan Tengah, dapat ditekan secara signifikan. (zia/ala)
Editor : Ayu Oktaviana