Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Gawat, Kasus Kekerasan terhadap Anak di Kalteng Masih Tinggi, Cek Daerahmu, Ada Berapa Kasus di Sana

Agus Pramono • Senin, 2 Februari 2026 | 11:00 WIB
Ilustrasi kekerasan pada anak dan perempuan.
Ilustrasi kekerasan pada anak dan perempuan.

PALANGKA RAYA –Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) pada 2025, kasus kekerasan terhadap anak di Kalimantan Tengah masih menunjukkan angka yang memprihatinkan. Dari data yang tercatat, kekerasan seksual menjadi jenis kekerasan yang paling banyak dialami anak, dengan total 199 kasus. Angka ini disusul kekerasan psikis sebanyak 132 kasus dan kekerasan fisik sebanyak 115 kasus. Selain itu, juga tercatat kasus penelantaran anak sebanyak 13 kasus, eksploitasi 8 kasus, trafficking 4 kasus, serta kategori kekerasan lainnya sebanyak 62 kasus.

Sebaran kasus tersebut terjadi hampir di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah.

Kabupaten Kotawaringin Barat menjadi daerah dengan laporan kasus yang cukup tinggi, diikuti oleh Barito Selatan, Kapuas, Katingan, serta Kota Palangka Raya. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kekerasan anak masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian dan penanganan berkelanjutan.

Data kekerasan terhadap anak sepanjang 2025 di Kalteng.
Data kekerasan terhadap anak sepanjang 2025 di Kalteng.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kalteng, dr. Linae Victoria Aden, menyampaikan bahwa anak-anak saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Tekanan tersebut datang dari berbagai sisi, mulai dari tuntutan akademik di sekolah, dinamika hubungan dalam keluarga, pergaulan sosial, hingga pengaruh media sosial yang tidak selalu berdampak positif.

“Anak dan remaja berada pada masa pembentukan karakter dan emosi. Paparan tekanan yang berlebihan, perundungan, serta minimnya ruang aman untuk mengekspresikan perasaan dapat memicu gangguan kesehatan mental apabila tidak ditangani secara tepat,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).

dr. Linae menegaskan, kekerasan yang dialami anak, terutama kekerasan psikis dan seksual, memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental. Anak yang menjadi korban kekerasan berisiko mengalami gangguan kecemasan, stres berkepanjangan, hingga gejala depresi. Tidak sedikit pula yang mengalami gangguan tidur, rendahnya kepercayaan diri, kesulitan mengelola emosi, serta menarik diri dari lingkungan sosial.

“Dalam beberapa kasus, anak yang tidak mendapatkan dukungan psikososial yang memadai juga menjadi lebih rentan terhadap perilaku berisiko, termasuk menyakiti diri sendiri maupun mengalami gangguan perilaku lainnya,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi kesehatan mental anak sering kali berkaitan erat dengan kualitas dukungan yang diterima di lingkungan terdekat, terutama keluarga. Lemahnya komunikasi dalam keluarga, kurangnya pendampingan orang tua, serta lingkungan yang tidak suportif dapat memperburuk kondisi psikologis anak dan remaja.

Sebagai langkah pencegahan dan penanganan, DP3APPKB Kalteng terus menjalankan berbagai program perlindungan perempuan dan anak. “Upaya ini meliputi penguatan ketahanan keluarga, pendampingan psikososial bagi korban kekerasan, pengembangan layanan ramah anak, serta peningkatan edukasi kesehatan mental di masyarakat,” sebutnya.

Selain itu, DP3APPKB juga mendorong penerapan pengasuhan positif dan deteksi dini terhadap risiko kekerasan, perundungan, serta permasalahan psikologis lainnya pada anak dan remaja. Kolaborasi lintas sektor terus diperkuat dengan melibatkan sekolah, tenaga kesehatan, aparat penegak hukum, serta masyarakat luas.

“Tujuan kami adalah menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan bebas stigma, sehingga anak-anak dan remaja di Kalimantan Tengah dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, baik secara fisik maupun mental,” pungkasnya. (zia/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#perlindungan perempuan dan anak #Kesehatan Mental Anak #DP3APPKB Kalteng #gangguan kecemasan #Pengaruh media sosial #kalimantan tengah #kekerasan anak #kekerasan psikis #penelantaran anak #simfoni ppa #depresi #edukasi kesehatan mental #Pencegahan dan Penanganan #psikososial #kesehatan mental #kekerasan terhadap anak #kotawaringin timur #kekerasan seksual #ketahanan keluarga