BADAN Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menghadapi tantangan serius di Kalimantan Tengah terkait rendahnya median usia kawin pertama (MUKP), khususnya pada perempuan. Data terbaru tahun 2025 mencatat MUKP perempuan di Kalteng berada di angka 20,3 tahun, turun dibandingkan tahun 2024 yang masih berada di 20,9 tahun.
Angka tersebut menempatkan Kalteng sebagai provinsi dengan median usia kawin pertama perempuan termuda secara nasional. Kondisi ini menjadi alarm bagi BKKBN karena pernikahan usia muda dinilai membawa dampak berantai terhadap kualitas kesehatan dan ketahanan keluarga.
“Rata-rata perempuan di Kalimantan Tengah menikah di usia 20 tahun 3 bulan. Ini masih menjadi tantangan besar bagi kami,” ujar Sunarto, Kepala Perwakilan BKKBN Kalteng, Rabu (21/1).
Menurutnya, pernikahan pada usia yang terlalu muda memiliki risiko besar, terutama bagi kesehatan ibu dan anak. Dari sisi medis, perempuan yang menikah dan hamil sebelum usia 21 tahun masih berada dalam fase pertumbuhan organ reproduksi.
“Ketika perempuan menikah di bawah usia 21 tahun, alat reproduksinya masih tumbuh. Saat hamil, nutrisi terbagi antara ibu dan bayi, dan sering kali bayi yang kalah. Dampaknya bisa stunting, serta risiko kematian ibu dan bayi menjadi lebih tinggi,” jelasnya.
Tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, pernikahan usia muda juga dinilai berkontribusi terhadap persoalan sosial lainnya. BKKBN mencatat, kepala keluarga perempuan di Kalimantan Tengah mencapai 13,2 persen, atau sekitar 125.305 orang.
Fenomena ini disebut memiliki potensi keterkaitan dengan tingginya pernikahan usia muda dan kerentanan perceraian.
“Ini memang belum kajian akademik, tetapi secara fenomena ada korelasinya. Pernikahan muda yang belum siap secara mental dan finansial sering kali berujung pada konflik rumah tangga dan perceraian,” kata Sunarto.
Ia menambahkan, ketidaksiapan ekonomi dan psikologis pasangan muda kerap membuat keluarga sulit bertahan menghadapi tekanan hidup, sehingga perempuan akhirnya harus mengambil peran sebagai kepala keluarga.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BKKBN menegaskan komitmennya memperkuat pembangunan keluarga berbasis siklus hidup. Pendekatan ini mencakup edukasi sejak remaja, pendampingan calon pengantin, ibu hamil, hingga pengasuhan anak dan perhatian pada kelompok lansia.
“Ke depan, kami akan terus mendorong edukasi dan intervensi sejak hulu. Harapannya, dengan kerja bersama dan dukungan semua pihak, Total Fertility Rate (TFR) Kalimantan Tengah bisa turun secara ideal ke angka 2,1 dan dipertahankan,” ujarnya.
Sunarto menegaskan, tujuan akhir dari seluruh upaya tersebut bukan semata menurunkan angka statistik, melainkan membangun fondasi keluarga yang kuat.
“Tujuan akhirnya tetap satu, yaitu mewujudkan keluarga yang sehat, sejahtera, dan berkualitas,” pungkasnya. (zia/ala)
Editor : Ayu Oktaviana