PALANGKA RAYA – Wajah baru kawasan Bundaran Besar Palangka Raya kini tidak hanya menghadirkan ruang terbuka hijau untuk bersantai, tetapi juga menawarkan pengalaman wisata budaya di tengah kota.
Salah satu yang menarik perhatian masyarakat adalah keberadaan RTH eks KONI yang kini terintegrasi langsung dengan kawasan Bundaran Besar melalui sebuah terowongan penghubung modern.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalimantan Tengah, Juni Gultom, mengatakan integrasi kawasan itu memang dirancang untuk menghadirkan ruang publik yang nyaman sekaligus edukatif bagi masyarakat.
“RTH eks KONI ini terintegrasi dengan Bundaran Besar melalui terowongan,” ujarnya.
Tidak hanya sekadar jalur penghubung, kawasan bawah Bundaran Besar juga dilengkapi museum budaya yang menampilkan berbagai peninggalan leluhur dan kekayaan budaya Kalimantan Tengah.
Kehadiran museum tersebut menjadi nilai tambah karena pengunjung tidak hanya datang untuk bersantai, tetapi juga bisa mengenal sejarah dan budaya daerah.
“Di kawasan Bundaran Besar juga terdapat museum budaya yang memuat berbagai peninggalan nenek moyang kita,” jelasnya.
Museum budaya tersebut mulai menarik perhatian masyarakat, terutama pengunjung yang penasaran dengan konsep ruang bawah tanah yang dipadukan dengan unsur budaya lokal. Berbagai ornamen, koleksi, hingga nuansa interior bernuansa etnik menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang datang berkunjung.
Meski sudah dibuka untuk umum, akses masuk ke museum saat ini masih dibatasi menyesuaikan kapasitas ruangan demi menjaga kenyamanan pengunjung.
“Museumnya bisa dikunjungi, tapi terbatas menyesuaikan ruangan. Sementara ini masih gratis,” tambahnya.
Dalam satu sesi kunjungan, museum tersebut hanya mampu menampung sekitar 30 orang.
Pembatasan dilakukan agar pengunjung tetap nyaman saat menikmati koleksi budaya yang dipamerkan di dalam ruangan.(*)
Editor : Ayu Oktaviana