PALANGKA RAYA – Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai memberikan dampak nyata terhadap kualitas udara di Kalimantan Tengah.
Berdasarkan pemantauan pada Rabu (29/7/2026) pukul 13.00 WIB, sejumlah kabupaten/kota mencatat peningkatan konsentrasi partikulat halus (PM2,5), bahkan Kota Palangka Raya telah masuk kategori tidak sehat.
Data pemantauan The Weather Channel menunjukkan konsentrasi PM2,5 di Kota Palangka Raya mencapai 177 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka tersebut berada pada level yang berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, lansia, dan masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.
Meningkatnya pencemaran udara menjadi sinyal bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga harus diiringi langkah-langkah perlindungan kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Kabupaten Kotim Naikkan Status Karhutla dari Siaga Jadi Tanggap Darurat Selama 28 Hari
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Tengah, Joni Harta, mengatakan penurunan kualitas udara di sejumlah daerah mulai memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat.
"Secara umum memburuknya kualitas udara di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah sudah barang tentu mempunyai dampak pada kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan individu yang kondisi kesehatannya rentan terhadap kualitas udara yang memburuk. Namun untuk lebih detailnya dapat berkoordinasi dengan instansi yang membidangi kesehatan," ujarnya.
Satgas Karhutla Ajukan Operasi Modifikasi Cuaca
Menurut Joni, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama Satgas Pengendali Karhutla terus mengintensifkan berbagai upaya pengendalian kebakaran guna menekan meluasnya titik api sekaligus mengurangi dampak kabut asap.
Baca Juga: DLH Kalteng: Kualitas Udara Masih Baik hingga Sedang, DPRD Minta AQMS Berfungsi Optimal
Satgas melibatkan berbagai unsur, mulai dari perangkat daerah, TNI, Polri, pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota, hingga organisasi masyarakat.
Selain pemadaman melalui jalur darat, operasi udara menggunakan water bombing juga terus dilakukan di sejumlah wilayah yang mengalami kebakaran lahan.
DLH Kalteng juga telah mengusulkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai langkah mempercepat turunnya hujan di daerah rawan karhutla.
"Satgas Pengendali Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2026 telah bermohon kepada BNPB Pusat untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca di wilayah yang rawan dan telah terjadi karhutla. Kemungkinan akan disetujui dan dilaksanakan dalam waktu dekat," jelas Joni.
Bandara Tjilik Riwut: Penerbangan Masih Normal
Sementara itu, meski kabut asap mulai terlihat di Kota Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir, operasional penerbangan di Bandara Tjilik Riwut dipastikan masih berjalan normal.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandar Udara Tjilik Riwut Palangka Raya, I Made Dermawan, mengatakan hingga kini kabut asap belum memengaruhi aktivitas penerbangan maupun pelayanan kepada penumpang.
Baca Juga: Kebakaran Lahan di Sampit Mulai Berdampak Pada Penerbangan di Bandara H Asan
"Sampai saat ini terkait karhutla belum memiliki dampak terhadap operasional penerbangan. Kemarin memang pada pagi hari kabut asap mulai terlihat, tetapi itu tidak memiliki dampak negatif terhadap operasional penerbangan. Berjalan dengan normal," ujarnya.
Made menjelaskan, pihak bandara terus memantau perkembangan cuaca dan jarak pandang bersama AirNav Indonesia serta instansi terkait sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan penerbangan.
Apabila kondisi kabut asap semakin pekat dan berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan, langkah penanganan akan dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan koordinasi lintas instansi.
"Nanti kita melihat dulu hasil dari tim karhutla, nanti baru kita bisa sampaikan. Karena memang itu terjadi, kita akan berkolaborasi dan berkoordinasi dengan mitra-mitra terkait, terutama dengan teman-teman AirNav," katanya.
Menurut Made, keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan.
Karena itu, seluruh kebijakan terkait operasional penerbangan akan selalu didasarkan pada kondisi aktual di lapangan dan rekomendasi dari instansi yang berwenang.
Ia berharap kondisi kabut asap tidak semakin memburuk sehingga aktivitas penerbangan di Bandara Tjilik Riwut tetap berjalan lancar dan masyarakat dapat terus memperoleh layanan transportasi udara secara aman.(*)
Editor : Agus Pramono