PALANGKA RAYA-Kobaran api di permukaan memang telah berhasil dipadamkan. Namun, ancaman belum benar-benar berakhir.
Bara yang masih tersimpan di lapisan gambut terus memicu kepulan asap pekat, sehingga tim gabungan harus berpacu dengan waktu untuk memadamkan api hingga ke bagian terdalam tanah.
Upaya pendinginan pun dilakukan secara intensif di sejumlah titik mulai dari Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau dan beberapa daerah lainnya. Hal ini untuk memastikan bara tidak kembali menyala dan memicu kebakaran yang lebih luas.
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalteng selama Juli memang menunjukan lonjakan yang signifikan. Sepanjang Juli 2026 atau dalam satu bulan, luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 914,39 hektare (Ha), menjadi angka bulanan tertinggi sepanjang tahun ini.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPB-PK Kalteng, secara kumulatif luas lahan yang terbakar selama periode Januari hingga Juli 2026 telah mencapai 1.388,25 hektare.
Dengan demikian, sekitar 65,8 persen dari total luas lahan terbakar sepanjang tujuh bulan pertama 2026 terjadi hanya pada Juli. Lonjakan tersebut terjadi bersamaan dengan masuknya Kalimantan Tengah ke periode musim kemarau yang meningkatkan kerawanan karhutla.
Potensi kebakaran juga masih terjadi di sejumlah daerah. Salah satu titik yang masih dalam penanganan berada di Kelurahan Kameloh Baru, Kota Palangka Raya, yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Pulang Pisau.
Manajer Pusdalops BPBD Kota Palangka Raya, Balap Sipet mengatakan, kebakaran di kawasan Kameloh Baru telah berlangsung sekitar satu pekan dan lokasi api semakin mendekati jalan raya. “Saat ini sedang ditangani sama Tim Satgas,” ujarnya, Minggu (2/8/2026).
Khusus di Kota Palangka Raya, BPBD setempat mencatat sebanyak 130 kejadian karhutla dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 57,89 hektare. Meningkatnya kejadian kebakaran turut diikuti munculnya kabut asap di sejumlah kawasan Kota Palangka Raya. Kondisi tersebut mulai terlihat mengurangi jarak pandang, sementara sebagian masyarakat memilih menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Ancaman karhutla masih perlu diwaspadai mengingat periode kemarau masih berlangsung. Kebakaran pada lahan gambut juga berpotensi membutuhkan penanganan lebih lama karena bara dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api di atas lahan telah berhasil dipadamkan.
Dengan luas kebakaran mencapai 914,39 hektare hanya selama Juli, perkembangan karhutla pada bulan-bulan berikutnya menjadi perhatian, terutama untuk mencegah meluasnya kebakaran hingga mendekati permukiman, fasilitas umum dan jalur transportasi masyarakat.
Penanganan karhutla khususnya di Pulang Pisau, memasuki tahap pendinginan setelah kobaran api di permukaan berhasil dikendalikan.
Tim gabungan masih berupaya menghilangkan asap pekat yang muncul akibat bara api yang tersimpan di bawah lapisan lahan gambut. Kondisi tersebut ditinjau langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto di lokasi kebakaran, Jumat (31/7/2026).
Sementara itu, Kepala BNPB Suharyanto mengatakan sebanyak 500 personel Satgas Darat Gabungan telah dikerahkan untuk menangani karhutla di Pulang Pisau. Personel tersebut berasal dari unsur TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, BNPB, serta Masyarakat Peduli Api (MPA).
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Suharyanto dan Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib.
Menurut Suharyanto, tantangan utama pemadaman di wilayah tersebut adalah karakteristik lahan gambut yang masih menyimpan bara api hingga beberapa meter di bawah permukaan tanah.
"Apinya sudah tidak ada, tetapi asapnya ini yang masih tebal. Karena lahan gambut, di bawah permukaan itu masih ada bara sehingga tidak bisa ditinggal dan harus disemprot terus sampai asapnya betul-betul hilang," kata Suharyanto.
Untuk mempercepat proses pendinginan, BNPB mengintegrasikan operasi udara dan darat. Helikopter water bombing tidak hanya melakukan penyiraman dari udara, tetapi juga mengisi flexible tank berkapasitas sekitar 6.000 liter melalui metode heli waterpool.
Air dari tangki tersebut kemudian dimanfaatkan personel darat menggunakan pompa portabel untuk menyisir titik-titik yang masih mengeluarkan asap.
Selain itu, BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menerbangkan pesawat penyemaian awan guna memicu hujan buatan di wilayah terdampak. Langkah tersebut dinilai menjadi metode paling efektif untuk memadamkan bara api yang berada jauh di bawah permukaan lahan gambut.(*)
Editor : Ayu Oktaviana